20 Cara Menguatkan Iman Anda
- “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.
4.Mengikutilahhalaqahdzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)
14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.
17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)
Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”
Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.
...hidup mulia atau mati syahid... ya Allah, berilah kami cintaMu agar dapat mencintaimu jadikan cintaku padaMu melebihi cintaku pada diriku sendiri, keluarga, harta dan pekerjaanku.........
Rabu, 24 Desember 2008
Selasa, 09 Desember 2008
nasehat pernikahan
NASEHAT PERNIKAHAN
Bismillahirrahmanirrahimi
Assalamu’alaikum wrwb.
Alhamdulillahirrabbil alamin, wabihi nastainuhu ala umuriddunya waddin wa sholatu washalamu ala anbiyai wal mursalin wa ala alihi waashohbihi aj’main.
Allahumma sholli ala Muhammadinil fatihi lima uhlik wal khotimi lima saba’ wanasiril haqi bil haqi ala shirotolmustaqim wa ala alihi wa ashbihi aj’main, amma ba’du
Pernikahan adalah suatu amalan sunah yang disyariatkan oleh Al Qur’an dan As Sunah Rasulullah SAW, dengan kokoh, sejalan dengan watak seksual dan sesuai dengan saluran yang halal dan bersih untuk memperoleh keturunan yang dapat memelihara kehormatan diri, kegembiraan hati dan ketenangan batin.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ;
Wamin ayaatihi ankhalaqum min anfusikum ajwajaa litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddata wa rahmah, innafi dzalika laayaati liqaumi yatafakkarun
artinya :” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Rasulullah SAW bersabda :” Nikah itu sunahku, barangsiapa tidak mengikuti sunahKu berarti dia bukan dari golonganKu”
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk menciptakan ketentraman, saling cinta dan kasih sayang. Ketiganya merupakan tiang kokoh penyangga bangunan keluarga dan rumah tangga. Bila salah satunya tidak ada, goyahlah sendi kekuatan bangunan rumah tangga tersebut.
Pertama : “Litaskunu ilaiha” yaitu sakinah, ketenangan dan ketentraman. Saling cinta, dan kasih sayang, supaya suami tenang dan tentram, kewajiban istri berusaha menenangkan dan menentramkan suami.
Kedua : “mawaddah” atau saling mencintai. Cintanya bersifat subyektif hanya untuk kepentingan berdua yaitu antara suami dan istri saling mencurahkan rasa cintanya.
Ketiga :” rahmah” yaitu kasih sayang yang bersifat obyektif yakni kasih sayang untuk kepentingan orang yang dikasih sayangi. Kasih sayang inilah yang harus menjadi landasan bagi cinta. Cinta makin lama makin berkurang, sedangkan kasih sayang makin lama makin kuat dan mantap.
Ketiga bangunan kehidupan itulah yang menjadi tujuan pernikahan dalam Islam.
Rosulullah bersabda : “sesungguhnya seluruh dunia kesenangan dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita/ istri yang solehah (HR Muslim).
Wahai putriku, ketahuilah istri yang baik itu,…..adalah :
• Selalu tampil dengan dandanan rapih dan indah dihadapan suami, selalu bersih, baik badan, pakaian, rumah, maupun lingkungan. istri yang tidak mengindahkan kebersihan menjauhkan suami dan mendorongnya kepelukan wanita lain yang bersih.
• Putriku, taat dan patuhlah kepada suamimu tetapi bukan dalam berma’siat kepada Allah SWT., Peliharalah anak-anakmu kelak dan tidak diasuh oleh pelayan atau tangan orang lain didiklah anak-anakmu dengan keimanan dan akhlak yang baik.
• Selalulah kamu rela dan puas dengan pemberian suamimu baik sedikit maupun banyak dan janganlah menuntut suami dengan hal-hal yang diluar kemampuannya.
• Uruslah rumah tanggamu dengan baik dan membelanjakan uang pada tempat yang benar, sasaran yang baik, dan hal-hal yang diperlukan saja.
• Peliharalah pakaianmu, perabot, dan alat rumah tangga agar lebih awet. Hal yang demikian lebih meringankan beban suami dan meningkatkan simpati serta menimbulkan penghargaan dari suami terhadap diri sang istri.
• Berakhlak baik dalam sikap, tindakan, dan tutur katamu. Selalu tersenyum dalam menyambut suami dengan ucapan yang menyenangkan dan melegakan hati. Penuh cinta dan kasih sayang.
• Bergaulah dengan keluarga suami dengan baik, terutama ibu mertuamu. hormatilah, sayangilah, dan bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap mereka. Tidak memonopoli suami dan menempatkan suami dalam keadaan sulit, yaitu memilih ibu atau istri. Suami yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbakti kepada orang tua pasti akan memilih ibunya.
• Hormati cita rasa suami. Menyertai suami dalam hati nurani dan tenggang rasa. Berhati-hati dalam melontarkan ucapan jangan sampai menyinggung dan melukai perasaan suami. Memberi kesan atau isyarat cinta kasih dan rasa bangga, demi memperkokoh kelestarian ikatan pernikahanmu.
• Pandai pandailah kamu bersyukur terhadap kebaikan suami. Hal ini dapat menimbulkan cinta suami dan mendorongnya berbuat lebih banyak kebaikan,
• Selalu menjaga kelemah lembutan dan kehalusan yang merupakan ciri kewanitaan dan kecantikan jiwa . Kecantikan wajah dan keindahan tubuh akan berakhir, tetapi kecantikan jiwa akan tetap lestari.
• Senantiasa memelihara keimanan dan amalan ibadahmu.
Dan kepada putraku,ketahuilah Suami yang baik itu,…….adalah :
• Memiliki kelebihan dalam soal kebenaran dan kejujuran sejak akan meminang. Berterus terang dalam menerangkan umur dan lainnya.
• Senang bersendau gurau, ramah tamah terhadap istri, memberi istri hak untuk hiburan, kesenangan yang wajar. Pergi bersama untuk hadir resepsi, ziarah dll
• Tidak terlalu cemburu, sabar, tidak banyak mengoreksi dan mencari-cari kesalahan istri, jujur , terbuka, tidak suka menggunakan ancaman cerai dan selalu bertanggungjawab.
• Dengan istri selalu berbicara dengan sopan, lembut dan beradap
• Memberi nafkah yang halal kepada keluarga dengan keseimbangan, tidak boros dan tidak kikir. Tidak membeli barang yang tidak diperlukan
• Selalu tampil indah dan berdandan baik, apa yang terlihat oleh istri dari suami ialah yang baik dan harum.
• Menyimpan rahasia keluarga dan rahasia rumah tangga yang dapat menjadi buah bibir dan bahan cerita dalam masyarakat.
• Memelihara penampilan yang berwibawa, penuh cinta, menyayangi, menghormati, menghargai dan memuliakan keluarga istri.
• Memelihara keimanan dan amalan ibadah diri dan seluruh keluarga
Yaa ayyuhalladzina amanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quduhaannasu wal khijaarah
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; (QS.At Tahrim ayat 6).
wa’mur ahlaka bish shalati wash thabir ‘alaihaa
artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha ayat 132)
Pesanku kepada anak-anakku.........
Wahai putriku,…. Kamu akan berpisah dengan lingkunganmu tempat kamu dilahirkan dan akan meninggalkan sarang tempat kamu dibesarkan untuk berpindah ke rumah yang tidak pernah kamu ketahui ruang serta isinya dan kepada kawan pendamping yang belum kamu kenal.
Dengan kekuasaannya terhadap dirimu, dia menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah abdinya supaya dia menjadi abdimu……..
Wahai anak-anakku………
• Bergaulah kamu berdua dengan asas kerelaan, bermusyawarahlah dengan kepatuhan dan saling mentaati yang baik
• Peliharalah apa apa yang ada dalam jangkauan mata dan hidung. Janganlah dia melihat sesuatu yang buruk dari kamu dan hendaknya dia mencium dari kamu keharuman. Hiasi celak matamu yang indah dan basulah tubuhmu dengan air yang cukup mengharumkan bila tidak ada wewangian.
• Jagalah waktu-waktu makan ketenangan tidurnya, sebab perihnya lapar dapat mengobarkan amarah dan kurangnya tidur akan mebangkitkan kejelekan.
• Peliharalah rumah, harta benda, diri kehormatan, dan anak-anaknya.sesungguhnya menjaga harta benda merupakan suatu penghargaan yang baik, sedangkan menjaga anak-anak dan kehormatanya adalah perbuatan yang mulia.
• Janganlah sekali-kali membocorkan rahasia dan menentang perintah suami. Bila kamu membocorkan rahasianya, kamu tidak akan aman dari tindakan balasan; dan bila kamu menentang, akan menyebabkan tertanamnya dendam dalam dadanya.
• Jauhilah kegembiraan dikala dia sedang dirudung kesedihan atau kesusahan dan jangan bersikap murung pada saat dia gembira. Sebab, yang pertama termasuk kekurangan, sedangkan yang kedua merupakan pengeruh suasana.
• Muliakan suamimu agar dia memiliakan kamu dan banyak-banyaklah bersikap setuju kepadanya agar dia lebih lama menjadi pendampingmu.
Wahai anak anakku……..
Pesanku padamu, sebagai suami istri haruslah bisa bertenggang rasa dan apabila perlu bergantilah mengalah demi kebaikan bersama, selalu berterus terang, tiada dinding rahasia yang memisahkan kedua hati, percaya mempercayai yang didasari oleh ikatan kesetiaan yang jujur.
Allah menghiasi hidup ini dengan suka dan duka, sebagaimana Allah telah menciptakan hidup ini dengan siang dan malam, sebagai istri yang baik engkau harus sanggup mendampingi suamimu dalam suka dan duka.
Anakku, dengan cintamu yang murni dikuatkan dengan sikap sebagaimana diajarkan dalam Islam, sungguh kesukaran apapun yang engkau hadapi di dalam hidup ini, insyaAllah akan dapat engkau atasi dengan petunjuk Allah SWT. Kebahagiaan sebesar apapun yang dilimpahkan Allah kepadamu, engkaupun tidak akan lupa kepadaNya.
Sebagaimana selama ini engkau telah menjadi orang yang baik bagi saudara-saudaramu dan kakak yang baik bagi adik adikmu, maka jadilah engkau istri yang baik bagi suamimu, menantu yang baik bagi ibu, bapak mertuamu dan iparmu juga baik bagi saudara saudara suamimu.
Anakku, bangunlah sebuah rumah tangga yang berlandaskan iman dan taqwa, dirikanlah tiang tiangnya berupa sholat wajib dan sholat sunatmu, dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu, zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
Dan semoga Allah SWT akan memasang atapnya agar teduh berupa Rahmat dan RidhoNya, semoga kelak rumah tanggamu akan dihangatkan oleh kehadiran dan celoteh anak anakmu yang sholeh dan sholehah, sehingga engkau berdua dapat bernaung dengan tentram dan damai, bukan saja di dunia ini tetapi juga di akhirat nanti, amien
Anakku, Islam mengajarkan agar di samping membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, engkaupun harus bisa bergaul dan menyambung tali silaturrahim yang luwes dengan lingkungan hidupmu. Engkau harus baik dengan tetangga, akrab dengan teman dan sahabat serta kasih mengasihi dengan saudara dan handai taulan.
Hormat dan sayangilah kepada kedua orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Insya Allah anakku dengan sikapmu yang baik dan penuh dengan kasih sayang, terutama kepada ibumu sekali lagi ibumu, ibumu dan kemudian bapakmu, maka Rahmat dan Berkah Allah akan tercurah pada rumah tanggamu, amien ya Rabbal alamin.
Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahimi disertai dengan do’a restu bapak ibumu dan semua keluargamu, maka berlayarlah anakku mengarungi samudera kehidupanmu yang baru dengan niat yang lurus, hati yang mantap serta iman yang teguh, tetap tegak bagaikan batu karang yang tangguh melawan badai dan ombak yang datang menerjang, menggoyahkan segala kehidupanmu.
Namun apabila biduk rumah tanggamu terbentur karang karang tajam, bila impian yang indah di hadapan pada kenyataan yang pahit, bila bukit harapan diguncang gempa cobaan, Ibu dan Bapak ingin agar engkau kuat berpegang pada tali Allah SWT, maka whuduk, sholatlah, bersujud, mohon petunjuk dan perbanyak dzikir dengan menyebut “Asma Allah”. Maka akan sejuklah hatimu nak…, nyaman hati orang tua apabila engkau berdua tetap mampu tersenyum, walaupun langit kadang kelabu. Semoga tercapailah yang engkau berdua idamkan selama ini akan membawa kebahagiaanmu, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Amien
Demikianlah anakku sayang, pesan dan nasehat dari orang tuamu. Semoga dapat engkau jadikan pegangan dalam mengarungi lautan hidupmu selanjutnya.
Amien ya Rabbal alamin, wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.
Jakarta, …………….. 2008
Wassalam,
Shohibul Hajjat
Bismillahirrahmanirrahimi
Assalamu’alaikum wrwb.
Alhamdulillahirrabbil alamin, wabihi nastainuhu ala umuriddunya waddin wa sholatu washalamu ala anbiyai wal mursalin wa ala alihi waashohbihi aj’main.
Allahumma sholli ala Muhammadinil fatihi lima uhlik wal khotimi lima saba’ wanasiril haqi bil haqi ala shirotolmustaqim wa ala alihi wa ashbihi aj’main, amma ba’du
Pernikahan adalah suatu amalan sunah yang disyariatkan oleh Al Qur’an dan As Sunah Rasulullah SAW, dengan kokoh, sejalan dengan watak seksual dan sesuai dengan saluran yang halal dan bersih untuk memperoleh keturunan yang dapat memelihara kehormatan diri, kegembiraan hati dan ketenangan batin.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ;
Wamin ayaatihi ankhalaqum min anfusikum ajwajaa litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddata wa rahmah, innafi dzalika laayaati liqaumi yatafakkarun
artinya :” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Rasulullah SAW bersabda :” Nikah itu sunahku, barangsiapa tidak mengikuti sunahKu berarti dia bukan dari golonganKu”
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk menciptakan ketentraman, saling cinta dan kasih sayang. Ketiganya merupakan tiang kokoh penyangga bangunan keluarga dan rumah tangga. Bila salah satunya tidak ada, goyahlah sendi kekuatan bangunan rumah tangga tersebut.
Pertama : “Litaskunu ilaiha” yaitu sakinah, ketenangan dan ketentraman. Saling cinta, dan kasih sayang, supaya suami tenang dan tentram, kewajiban istri berusaha menenangkan dan menentramkan suami.
Kedua : “mawaddah” atau saling mencintai. Cintanya bersifat subyektif hanya untuk kepentingan berdua yaitu antara suami dan istri saling mencurahkan rasa cintanya.
Ketiga :” rahmah” yaitu kasih sayang yang bersifat obyektif yakni kasih sayang untuk kepentingan orang yang dikasih sayangi. Kasih sayang inilah yang harus menjadi landasan bagi cinta. Cinta makin lama makin berkurang, sedangkan kasih sayang makin lama makin kuat dan mantap.
Ketiga bangunan kehidupan itulah yang menjadi tujuan pernikahan dalam Islam.
Rosulullah bersabda : “sesungguhnya seluruh dunia kesenangan dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita/ istri yang solehah (HR Muslim).
Wahai putriku, ketahuilah istri yang baik itu,…..adalah :
• Selalu tampil dengan dandanan rapih dan indah dihadapan suami, selalu bersih, baik badan, pakaian, rumah, maupun lingkungan. istri yang tidak mengindahkan kebersihan menjauhkan suami dan mendorongnya kepelukan wanita lain yang bersih.
• Putriku, taat dan patuhlah kepada suamimu tetapi bukan dalam berma’siat kepada Allah SWT., Peliharalah anak-anakmu kelak dan tidak diasuh oleh pelayan atau tangan orang lain didiklah anak-anakmu dengan keimanan dan akhlak yang baik.
• Selalulah kamu rela dan puas dengan pemberian suamimu baik sedikit maupun banyak dan janganlah menuntut suami dengan hal-hal yang diluar kemampuannya.
• Uruslah rumah tanggamu dengan baik dan membelanjakan uang pada tempat yang benar, sasaran yang baik, dan hal-hal yang diperlukan saja.
• Peliharalah pakaianmu, perabot, dan alat rumah tangga agar lebih awet. Hal yang demikian lebih meringankan beban suami dan meningkatkan simpati serta menimbulkan penghargaan dari suami terhadap diri sang istri.
• Berakhlak baik dalam sikap, tindakan, dan tutur katamu. Selalu tersenyum dalam menyambut suami dengan ucapan yang menyenangkan dan melegakan hati. Penuh cinta dan kasih sayang.
• Bergaulah dengan keluarga suami dengan baik, terutama ibu mertuamu. hormatilah, sayangilah, dan bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap mereka. Tidak memonopoli suami dan menempatkan suami dalam keadaan sulit, yaitu memilih ibu atau istri. Suami yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbakti kepada orang tua pasti akan memilih ibunya.
• Hormati cita rasa suami. Menyertai suami dalam hati nurani dan tenggang rasa. Berhati-hati dalam melontarkan ucapan jangan sampai menyinggung dan melukai perasaan suami. Memberi kesan atau isyarat cinta kasih dan rasa bangga, demi memperkokoh kelestarian ikatan pernikahanmu.
• Pandai pandailah kamu bersyukur terhadap kebaikan suami. Hal ini dapat menimbulkan cinta suami dan mendorongnya berbuat lebih banyak kebaikan,
• Selalu menjaga kelemah lembutan dan kehalusan yang merupakan ciri kewanitaan dan kecantikan jiwa . Kecantikan wajah dan keindahan tubuh akan berakhir, tetapi kecantikan jiwa akan tetap lestari.
• Senantiasa memelihara keimanan dan amalan ibadahmu.
Dan kepada putraku,ketahuilah Suami yang baik itu,…….adalah :
• Memiliki kelebihan dalam soal kebenaran dan kejujuran sejak akan meminang. Berterus terang dalam menerangkan umur dan lainnya.
• Senang bersendau gurau, ramah tamah terhadap istri, memberi istri hak untuk hiburan, kesenangan yang wajar. Pergi bersama untuk hadir resepsi, ziarah dll
• Tidak terlalu cemburu, sabar, tidak banyak mengoreksi dan mencari-cari kesalahan istri, jujur , terbuka, tidak suka menggunakan ancaman cerai dan selalu bertanggungjawab.
• Dengan istri selalu berbicara dengan sopan, lembut dan beradap
• Memberi nafkah yang halal kepada keluarga dengan keseimbangan, tidak boros dan tidak kikir. Tidak membeli barang yang tidak diperlukan
• Selalu tampil indah dan berdandan baik, apa yang terlihat oleh istri dari suami ialah yang baik dan harum.
• Menyimpan rahasia keluarga dan rahasia rumah tangga yang dapat menjadi buah bibir dan bahan cerita dalam masyarakat.
• Memelihara penampilan yang berwibawa, penuh cinta, menyayangi, menghormati, menghargai dan memuliakan keluarga istri.
• Memelihara keimanan dan amalan ibadah diri dan seluruh keluarga
Yaa ayyuhalladzina amanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quduhaannasu wal khijaarah
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; (QS.At Tahrim ayat 6).
wa’mur ahlaka bish shalati wash thabir ‘alaihaa
artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha ayat 132)
Pesanku kepada anak-anakku.........
Wahai putriku,…. Kamu akan berpisah dengan lingkunganmu tempat kamu dilahirkan dan akan meninggalkan sarang tempat kamu dibesarkan untuk berpindah ke rumah yang tidak pernah kamu ketahui ruang serta isinya dan kepada kawan pendamping yang belum kamu kenal.
Dengan kekuasaannya terhadap dirimu, dia menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah abdinya supaya dia menjadi abdimu……..
Wahai anak-anakku………
• Bergaulah kamu berdua dengan asas kerelaan, bermusyawarahlah dengan kepatuhan dan saling mentaati yang baik
• Peliharalah apa apa yang ada dalam jangkauan mata dan hidung. Janganlah dia melihat sesuatu yang buruk dari kamu dan hendaknya dia mencium dari kamu keharuman. Hiasi celak matamu yang indah dan basulah tubuhmu dengan air yang cukup mengharumkan bila tidak ada wewangian.
• Jagalah waktu-waktu makan ketenangan tidurnya, sebab perihnya lapar dapat mengobarkan amarah dan kurangnya tidur akan mebangkitkan kejelekan.
• Peliharalah rumah, harta benda, diri kehormatan, dan anak-anaknya.sesungguhnya menjaga harta benda merupakan suatu penghargaan yang baik, sedangkan menjaga anak-anak dan kehormatanya adalah perbuatan yang mulia.
• Janganlah sekali-kali membocorkan rahasia dan menentang perintah suami. Bila kamu membocorkan rahasianya, kamu tidak akan aman dari tindakan balasan; dan bila kamu menentang, akan menyebabkan tertanamnya dendam dalam dadanya.
• Jauhilah kegembiraan dikala dia sedang dirudung kesedihan atau kesusahan dan jangan bersikap murung pada saat dia gembira. Sebab, yang pertama termasuk kekurangan, sedangkan yang kedua merupakan pengeruh suasana.
• Muliakan suamimu agar dia memiliakan kamu dan banyak-banyaklah bersikap setuju kepadanya agar dia lebih lama menjadi pendampingmu.
Wahai anak anakku……..
Pesanku padamu, sebagai suami istri haruslah bisa bertenggang rasa dan apabila perlu bergantilah mengalah demi kebaikan bersama, selalu berterus terang, tiada dinding rahasia yang memisahkan kedua hati, percaya mempercayai yang didasari oleh ikatan kesetiaan yang jujur.
Allah menghiasi hidup ini dengan suka dan duka, sebagaimana Allah telah menciptakan hidup ini dengan siang dan malam, sebagai istri yang baik engkau harus sanggup mendampingi suamimu dalam suka dan duka.
Anakku, dengan cintamu yang murni dikuatkan dengan sikap sebagaimana diajarkan dalam Islam, sungguh kesukaran apapun yang engkau hadapi di dalam hidup ini, insyaAllah akan dapat engkau atasi dengan petunjuk Allah SWT. Kebahagiaan sebesar apapun yang dilimpahkan Allah kepadamu, engkaupun tidak akan lupa kepadaNya.
Sebagaimana selama ini engkau telah menjadi orang yang baik bagi saudara-saudaramu dan kakak yang baik bagi adik adikmu, maka jadilah engkau istri yang baik bagi suamimu, menantu yang baik bagi ibu, bapak mertuamu dan iparmu juga baik bagi saudara saudara suamimu.
Anakku, bangunlah sebuah rumah tangga yang berlandaskan iman dan taqwa, dirikanlah tiang tiangnya berupa sholat wajib dan sholat sunatmu, dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu, zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
Dan semoga Allah SWT akan memasang atapnya agar teduh berupa Rahmat dan RidhoNya, semoga kelak rumah tanggamu akan dihangatkan oleh kehadiran dan celoteh anak anakmu yang sholeh dan sholehah, sehingga engkau berdua dapat bernaung dengan tentram dan damai, bukan saja di dunia ini tetapi juga di akhirat nanti, amien
Anakku, Islam mengajarkan agar di samping membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, engkaupun harus bisa bergaul dan menyambung tali silaturrahim yang luwes dengan lingkungan hidupmu. Engkau harus baik dengan tetangga, akrab dengan teman dan sahabat serta kasih mengasihi dengan saudara dan handai taulan.
Hormat dan sayangilah kepada kedua orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Insya Allah anakku dengan sikapmu yang baik dan penuh dengan kasih sayang, terutama kepada ibumu sekali lagi ibumu, ibumu dan kemudian bapakmu, maka Rahmat dan Berkah Allah akan tercurah pada rumah tanggamu, amien ya Rabbal alamin.
Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahimi disertai dengan do’a restu bapak ibumu dan semua keluargamu, maka berlayarlah anakku mengarungi samudera kehidupanmu yang baru dengan niat yang lurus, hati yang mantap serta iman yang teguh, tetap tegak bagaikan batu karang yang tangguh melawan badai dan ombak yang datang menerjang, menggoyahkan segala kehidupanmu.
Namun apabila biduk rumah tanggamu terbentur karang karang tajam, bila impian yang indah di hadapan pada kenyataan yang pahit, bila bukit harapan diguncang gempa cobaan, Ibu dan Bapak ingin agar engkau kuat berpegang pada tali Allah SWT, maka whuduk, sholatlah, bersujud, mohon petunjuk dan perbanyak dzikir dengan menyebut “Asma Allah”. Maka akan sejuklah hatimu nak…, nyaman hati orang tua apabila engkau berdua tetap mampu tersenyum, walaupun langit kadang kelabu. Semoga tercapailah yang engkau berdua idamkan selama ini akan membawa kebahagiaanmu, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Amien
Demikianlah anakku sayang, pesan dan nasehat dari orang tuamu. Semoga dapat engkau jadikan pegangan dalam mengarungi lautan hidupmu selanjutnya.
Amien ya Rabbal alamin, wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.
Jakarta, …………….. 2008
Wassalam,
Shohibul Hajjat
Selasa, 07 Oktober 2008
Minggu, 14 September 2008
TIPOLOGI MANUSIA MENGHADAPI RAMADHAN
Ramadhan seri 2
Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin dalam
beberapa kategori dan model, yaitu:
Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar
akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di
bulan itu.
Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan
suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka
tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena
mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.
Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan tiba-tiba saja
muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan melihat
fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu,
apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada.
Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang
penulis tangkap dari gejala sosial yang ada.
Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai
yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini
hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi
perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.
Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka
persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka
menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan
itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik
dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan
dilalui dengan baik.
Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukanya.
Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin
bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini
betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.
Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya.
Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan
hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini. Penulis kira,
golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini.
Mereka adalah para pemburu takwa.
Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut
kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang
meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini.
Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan
spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak
ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin,
walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan.
Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.
Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak
jumlahnya.. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat
ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka,
bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak
mendapatkannya.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan
Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat
mereka menangguk keuntungan besar. Siapa mereka? Mereka adalah
sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.
Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan
dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam
benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop dalam sekali
tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang
dianggap mendatangkan uang.
Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan
Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak
penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini.
Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan
ampunan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekening.
Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat
tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia
sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa bekakan, seakan
Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.
Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara
dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang
sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat
melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran,
namun dia sendiri untuk menyentuh, ya untuk menyentuh saja, demikian
enggan.
Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan
selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa
seorang qari’-qariah, bisa seorang dai kondang, bisa seorang presenter,
bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola
transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama
pada saat Ramadhan datang menjelang.
Saya yakin, kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan
kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi
sebaik-baiknya.. Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan
spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang
tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!
Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan
kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap sebagai kelompok yang
sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui
dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena
akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan
dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus
malu jika kepergok sedang makan-makan.
Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda
hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan
telah menyumbat rizkinya.
Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola
night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan.
Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya
menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah
para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup
menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja
pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan
bulan penyucian diri dan jiwa.
Saya tidak berani berkomentar sosok macam apakah mereka. Yang jelas,
mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha
Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini.
Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah kelompok
pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan
“keberaniannya”, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk
yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.
Kita berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang
semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk
nilai-nilai dan semangat pula memaknainya.
Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin dalam
beberapa kategori dan model, yaitu:
Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar
akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di
bulan itu.
Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan
suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka
tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena
mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.
Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan tiba-tiba saja
muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan melihat
fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu,
apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada.
Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang
penulis tangkap dari gejala sosial yang ada.
Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai
yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini
hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi
perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.
Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka
persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka
menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan
itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik
dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan
dilalui dengan baik.
Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukanya.
Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin
bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini
betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.
Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya.
Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan
hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini. Penulis kira,
golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini.
Mereka adalah para pemburu takwa.
Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut
kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang
meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini.
Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan
spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak
ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin,
walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan.
Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.
Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak
jumlahnya.. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat
ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka,
bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak
mendapatkannya.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan
Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat
mereka menangguk keuntungan besar. Siapa mereka? Mereka adalah
sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.
Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan
dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam
benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop dalam sekali
tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang
dianggap mendatangkan uang.
Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan
Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak
penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini.
Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan
ampunan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekening.
Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat
tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia
sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa bekakan, seakan
Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.
Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara
dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang
sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat
melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran,
namun dia sendiri untuk menyentuh, ya untuk menyentuh saja, demikian
enggan.
Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan
selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa
seorang qari’-qariah, bisa seorang dai kondang, bisa seorang presenter,
bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola
transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama
pada saat Ramadhan datang menjelang.
Saya yakin, kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan
kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi
sebaik-baiknya.. Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan
spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang
tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!
Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan
kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap sebagai kelompok yang
sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui
dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena
akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan
dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus
malu jika kepergok sedang makan-makan.
Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda
hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan
telah menyumbat rizkinya.
Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola
night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan.
Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya
menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah
para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup
menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja
pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan
bulan penyucian diri dan jiwa.
Saya tidak berani berkomentar sosok macam apakah mereka. Yang jelas,
mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha
Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini.
Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah kelompok
pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan
“keberaniannya”, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk
yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.
Kita berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang
semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk
nilai-nilai dan semangat pula memaknainya.
Kamis, 28 Agustus 2008
Ramadhan 1429 H
Ramadhan seri 1
AGAR RAMADHAN PENUH RAHMAT, BERKAH, DAN BERMAKNA
Hari ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita
petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada
peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual,
dan pembeningan jiwa dan nurani.
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan
manusia.. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum
datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah
berikut, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah
janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada
siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari
“rahim” Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang
berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa
yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus”
(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak
melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan
untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan
bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna:
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas,
sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang
pekerjaan itu.. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki
persepsi yang bernar tentang puasa.
Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah
mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar
tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah
mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus
dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada
bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang
yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan
ini.” (HR. Ath-Thabrani).
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat - dan tentu saja kita semua -
bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan
Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna
apa-apa..
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam
kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan
ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika
kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias
untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang
untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau
mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.
Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa
itu.. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang
boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi
panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan
kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu
melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah
sabdakan,
“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan
memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi
pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal
kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa
merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang
mukmin.. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa
kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan
semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu
penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan
anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan
perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang,
solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi
batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk
tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat
hal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang
melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan
perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat
bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta
haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran
dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama,
angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata, “Jika kamu berpuasa,
maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan
sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap
tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu
(saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa.”
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia
mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak
makan dan tidak minum.” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya)
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan
amal ke depan.
AGAR RAMADHAN PENUH RAHMAT, BERKAH, DAN BERMAKNA
Hari ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita
petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada
peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual,
dan pembeningan jiwa dan nurani.
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan
manusia.. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum
datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah
berikut, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah
janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada
siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari
“rahim” Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang
berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa
yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus”
(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak
melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan
untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan
bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna:
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas,
sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang
pekerjaan itu.. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki
persepsi yang bernar tentang puasa.
Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah
mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar
tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah
mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus
dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada
bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang
yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan
ini.” (HR. Ath-Thabrani).
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat - dan tentu saja kita semua -
bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan
Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna
apa-apa..
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam
kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan
ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika
kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias
untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang
untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau
mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.
Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa
itu.. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang
boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi
panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan
kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu
melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah
sabdakan,
“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan
memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi
pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal
kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa
merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang
mukmin.. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa
kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan
semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu
penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan
anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan
perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang,
solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi
batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk
tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat
hal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang
melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan
perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat
bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta
haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran
dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama,
angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata, “Jika kamu berpuasa,
maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan
sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap
tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu
(saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa.”
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia
mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak
makan dan tidak minum.” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya)
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan
amal ke depan.
Selasa, 08 Juli 2008
Makna Tauhid
Ir.gatot iman sudjono
Muqaddimah
Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupanya. Dengan syahadat, orientasi duniawi (Baca;materil) Akan berubah menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak pulalah Rasulullah SAW mengubah kondisi masyarakat arab, dari kehidupan yang jahili menuju kehidupan yang islami.
Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insane. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalamketika hati telah berubah, maka segala gerak gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula.
Namun Tentulah untuk dapat mewujudkan perubahan seperti itu, harus terlebih dahulu memahami hakekat yang terkandung dalam kalimat yang membawa perubahan itu. Para sahabat, yang mereka semua sebagian besar orang arab, sangat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut.Sehingga keyika mereka mengucapkannya, mereka pun mengetahui dan memahami konsekuensi yang bakal mereka terima dari ucapannya. Oleh karena itulah, tidak sedikit kasus adanya penolakan dari mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut.Bahkan diantara mereka ada mengatakan akan dapat mengatakan sepuluh kalimat, Asalkan bukan kalimat yang satu itu.
Makna Syahadatain
1. Uraian makna dan fungsi kata La ilaha ilallah
Kata Makna Fungsi
La Tidak nafi: Peniadaan
Ilaha Tuhan(yang disembah) Manfa : Yang ditiadakan
Illa Kecuali Adatul Istisna : Pengecualian
Allah Allah SWT Al-mustasna : yang dikecualikan
2. Arti La ilaha ilallah
Ilah secara bahasa memiliki arti sesuatu yang disembah. Dimensi ilah dalam kehidupan ini dapat mencakup makna luas, diantaranya adalah :
A).Malik raja/pemliki:
Tiada pemiliki raja selain allah SWT /tiada kerajaan selain untuk Allah SWT.
Allah SWT berfirman (QS. 4 :131)
وَللّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ لِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ غَنِيّاً حَمِيداً ﴿١٣١﴾
“Dan Kepunyaan Allah lah apa yang dilangit dan yang di bumi,dan sungguh kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan(juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka ketahuilah, sesungguhnya apa yang dilangit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan allah dan Allah maha kaya Lagi maha terpuji.”
B.) Hakim ; Pembuat hukum.
Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalm Al-quran Allah SWT Berfirman dalam (QS. 6 :114)
أَفَغَيْرَ اللّهِ أَبْتَغِي حَكَماً وَهُوَ الَّذِي أَنَزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ﴿١١٤﴾
“Maka patutkah aku mencari hakim selain dari pada Allah, pada hal ia lah yang telah menurunkan kitab (al-quran) kepada mu dengan terperinci?orang-orang yang telah kami datangkan kitab kepada mereka,mereka mengetahui bahwa al-quran itu diturunkan dari tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.”
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 :57)
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”
C.) Amir :Pemerintah (yang berhak memberikan perintah)
Tiada pemerintah (Yang berhak memberikan perintah dan larangan ) Selain Allah SWT. Dalam al-quran Allah SWT berfirman (QS. 7 :54)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٥٤﴾
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Tuhan.”
D.) Wali : Pelindung/pemimpin
Tiada pelindung/pemimpin selain Allah SWT.Allah SWT berfirman dalam al-quran (QS.2: 257)
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٥٧﴾
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah penghuni neraka ; mereka kekal di dalamnya.”
E.) Mahbub : yang dicintai.
Tiada yang dicintai selain Allah SWT dalam al-quran Allah SWT mengatakan (QS.2:165)
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ ﴿١٦٥﴾
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun Orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaanya (niscaya mereka menyesal)”
F.)Marhub : Yang ditakuti.
Tiada yang ditakuti selain Allah SWt. Allah berfirman (QS.9:18)
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ ﴿١٨﴾
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman lepada Allah dan hari kemudian,Serta tetap mendirikan Shalat,menunaikan Zakat,Dan tidak takut kpd siapa pun selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
G.) Marghub : Yang diharapkan.
Tiada yang diharapkan Selain Allah SWT.Allah berfirman dalam al- quran (QS.94:8):
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨﴾
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
H.) Haul wal quwah : Daya dan kekuatan
Tiada daya dan kekuatan selain Allah SWt. Allah SWt berfirman dalam al-quran (QS.51:58) :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨﴾
“Sesungguhnya Allah Dialah maha pemberi Rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
I.) Mu’dzam : Yang diagungkan.
Tiada yang diagungkan selain Allah SWT. Dalam al-quran Allah SWT berfirman (QS.22:32) :
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ ﴿٣٢﴾
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
J.) Mustaan bihi : Tempat dimintai pertolongan.
Tiada yang dimintai pertolongan selain Allah SWT, Allah berfirman dalam al-quran (QS.1.:5)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
“Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan.”
Muqaddimah
Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupanya. Dengan syahadat, orientasi duniawi (Baca;materil) Akan berubah menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak pulalah Rasulullah SAW mengubah kondisi masyarakat arab, dari kehidupan yang jahili menuju kehidupan yang islami.
Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insane. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalamketika hati telah berubah, maka segala gerak gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula.
Namun Tentulah untuk dapat mewujudkan perubahan seperti itu, harus terlebih dahulu memahami hakekat yang terkandung dalam kalimat yang membawa perubahan itu. Para sahabat, yang mereka semua sebagian besar orang arab, sangat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut.Sehingga keyika mereka mengucapkannya, mereka pun mengetahui dan memahami konsekuensi yang bakal mereka terima dari ucapannya. Oleh karena itulah, tidak sedikit kasus adanya penolakan dari mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut.Bahkan diantara mereka ada mengatakan akan dapat mengatakan sepuluh kalimat, Asalkan bukan kalimat yang satu itu.
Makna Syahadatain
1. Uraian makna dan fungsi kata La ilaha ilallah
Kata Makna Fungsi
La Tidak nafi: Peniadaan
Ilaha Tuhan(yang disembah) Manfa : Yang ditiadakan
Illa Kecuali Adatul Istisna : Pengecualian
Allah Allah SWT Al-mustasna : yang dikecualikan
2. Arti La ilaha ilallah
Ilah secara bahasa memiliki arti sesuatu yang disembah. Dimensi ilah dalam kehidupan ini dapat mencakup makna luas, diantaranya adalah :
A).Malik raja/pemliki:
Tiada pemiliki raja selain allah SWT /tiada kerajaan selain untuk Allah SWT.
Allah SWT berfirman (QS. 4 :131)
وَللّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ لِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ غَنِيّاً حَمِيداً ﴿١٣١﴾
“Dan Kepunyaan Allah lah apa yang dilangit dan yang di bumi,dan sungguh kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan(juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka ketahuilah, sesungguhnya apa yang dilangit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan allah dan Allah maha kaya Lagi maha terpuji.”
B.) Hakim ; Pembuat hukum.
Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalm Al-quran Allah SWT Berfirman dalam (QS. 6 :114)
أَفَغَيْرَ اللّهِ أَبْتَغِي حَكَماً وَهُوَ الَّذِي أَنَزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ﴿١١٤﴾
“Maka patutkah aku mencari hakim selain dari pada Allah, pada hal ia lah yang telah menurunkan kitab (al-quran) kepada mu dengan terperinci?orang-orang yang telah kami datangkan kitab kepada mereka,mereka mengetahui bahwa al-quran itu diturunkan dari tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.”
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 :57)
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”
C.) Amir :Pemerintah (yang berhak memberikan perintah)
Tiada pemerintah (Yang berhak memberikan perintah dan larangan ) Selain Allah SWT. Dalam al-quran Allah SWT berfirman (QS. 7 :54)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٥٤﴾
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Tuhan.”
D.) Wali : Pelindung/pemimpin
Tiada pelindung/pemimpin selain Allah SWT.Allah SWT berfirman dalam al-quran (QS.2: 257)
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٥٧﴾
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah penghuni neraka ; mereka kekal di dalamnya.”
E.) Mahbub : yang dicintai.
Tiada yang dicintai selain Allah SWT dalam al-quran Allah SWT mengatakan (QS.2:165)
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ ﴿١٦٥﴾
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun Orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaanya (niscaya mereka menyesal)”
F.)Marhub : Yang ditakuti.
Tiada yang ditakuti selain Allah SWt. Allah berfirman (QS.9:18)
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ ﴿١٨﴾
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman lepada Allah dan hari kemudian,Serta tetap mendirikan Shalat,menunaikan Zakat,Dan tidak takut kpd siapa pun selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
G.) Marghub : Yang diharapkan.
Tiada yang diharapkan Selain Allah SWT.Allah berfirman dalam al- quran (QS.94:8):
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨﴾
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
H.) Haul wal quwah : Daya dan kekuatan
Tiada daya dan kekuatan selain Allah SWt. Allah SWt berfirman dalam al-quran (QS.51:58) :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨﴾
“Sesungguhnya Allah Dialah maha pemberi Rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
I.) Mu’dzam : Yang diagungkan.
Tiada yang diagungkan selain Allah SWT. Dalam al-quran Allah SWT berfirman (QS.22:32) :
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ ﴿٣٢﴾
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
J.) Mustaan bihi : Tempat dimintai pertolongan.
Tiada yang dimintai pertolongan selain Allah SWT, Allah berfirman dalam al-quran (QS.1.:5)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
“Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan.”
Minggu, 06 Juli 2008
10. Nasehat Luqman Kepada Anaknya
oleh : Ir. Gatot Iman Sudjono
Jangan mempersekutukan Allah
artinya :” 013. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Berbuat baik kepada kedua orang tua
Bersyukur
artinya :” 014. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
artinya :” 015. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Perbuatan sebesar biji sawi akan mendatangkan balasannya
artinya :” 016. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Dirikanlah sholat,
Berbuat baik, cegah mungkar,
Bersabarlah
artinya :” 017. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Jangan Sombong
artinya :” 018. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Sederhanalah dalam berjalan
Lunakkan suaramu
artinya :” 019. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Jangan mempersekutukan Allah
artinya :” 013. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Berbuat baik kepada kedua orang tua
Bersyukur
artinya :” 014. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
artinya :” 015. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Perbuatan sebesar biji sawi akan mendatangkan balasannya
artinya :” 016. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Dirikanlah sholat,
Berbuat baik, cegah mungkar,
Bersabarlah
artinya :” 017. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Jangan Sombong
artinya :” 018. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Sederhanalah dalam berjalan
Lunakkan suaramu
artinya :” 019. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Sabtu, 05 Juli 2008
EGOISME
EGOISME
ANCAM PERSATUAN UMAT
Disampaikan oleh: Ir. Gatot Sudjono
Idul Adha 1427 H/2006 di Masjid Al-Muhajirin
Jatikramat Indah I-Bekasi
Allahu Akbar 3X Allahu Akbar 3X Allahu Akbar 3X Allahu Akbar wa lillahilhamdu
Hadirin jama’ah Idul Adha rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Rahman, yang Maha kasih terhadap seluruh makhluknya tanpa pilih kasih. Allah yang Maha Rahim, yang Maha penyayang kepada hamba-Nya yang beriman dan beribadah kepada-Nya.
Kita bersyukur kepada Allah SWT, hanya Berkah, Rahmat, Karunia, Taufiq dan Hidayah-Nya semata kita dapat berkumpul di pagi hari yang sangat mulia dan berbahagia ini. Saat ini, lebih dua juta kaum muslimin tengah beribadah haji di Tanah suci. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, dari bangsa, bahasa, golongan, suku, warna kulit, dan status sosial yang beraneka ragam. Namun dari lidah mereka meluncur satu kalimat :
“Labbaika, Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik. Inna alhamda wa al ni’mata laka wa al-mulk, la syarika laka”
(“Aku penuhi panggilan-Mu…Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan kekuasaan, milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”)
Kalimat itu melambangkan persatuan, kesatuan dan keikhlasan mengabdi semata-mata demi memenuhi panggilan Illahi. Berjuta-juta hewan ternak disembelih. Dagingnya dibagikan kepada mereka yang jarang menikmatinya. Sementara darahnya dibiarkan bercucuran di muka bumi, sebagai tamsil dari pengabdian dan pengorbanan makhluk kepada penciptanya.
Hadirin kaum Muslimin Rahimakumullah
Kemarin umat Islam berkumpul dipadang Arafah. Ditengah tengah padang pasir yang gersang, di bawah terik panas matahari yang menyengat. Pakaian mereka serba putih melambangkan kesucian hati mereka. Kaum pria hanya mengenakan dua helai kain tanpa jahitan. Tak bisa dibedakan antara yang kaya dengan yang miskin., antara pejabat dan rakyat biasa. Dari balik tenda, terdengar suara dzikir mereka. Diiringi derai airmata yang berjatuhan membasahi pipi yang gersang, teringat akan dosa dan kesalahan yang telah begitu banyak dilakukan.
Dan pada hari ini, mereka kumpul di Mina. Di tempat inilah pengorbanan hakiki pernah diproklamirkan. Ketika Nabiyullah Ibrahim AS merelakan putra tercintanya Ismail untuk disembelih. Seruan ini disambut oleh putranya dengan penuh keikhlasan, dengan menyatakan :
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat: 102)
Demikianlah keduanya rela berkorban di jalan Allah, sebagai bentuk pengorbanan termahal dalam sejarah manusia. Walaupun leher Ismail tidak terpenggal, dan digantikan Allah dengan seekor qibas, namun peristiwa itu menyisakan makna yang terlukis sepanjang masa. Betapa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan selalu mensyaratkan pengorbanan sebagai konsekuensi logis. Tanpa merelakan kepentingan pribadi yang seringkali duniawi, tujuan perjuangan yang menyangkut maslahat umat tak mungkin tercapai. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3).
Seorang mukmin dituntut untuk rela berkorban apa saja. Tak peduli harta, pangkat, jabatan, bahkan nyawa sekalipun jika dimaksudkan sebagai pengabdian terhadap Allah SWT dapat terwujud dan umat manusia dapat terhindar dari kekufuran dan kemusyrikan. Setiap Mukmin harus ikhlas berkorban. Pengorbanan dalam bentuk apapun, sepanjang didasari keikhlasan niat semata mencari ridho Allah pasti tidak akan sia-sia disisi-Nya. Ia yakin betul akan janji Allah SWT :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111).
Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia
Perjuangan yang kita lakukan harus didasari atas niat semata mencari ridha Allah SWT. Pengorbanan kita juga harus ikhlas karena-Nya, dengan menyerahkan sebagian kemerdekaan pribadi untuk kepentingan dan kebahagiaan bersama. Sebagai suami/ istri, sebagai orang tua/ anak. Kita berjuang dan berkorban agar seluruh keluarga kita terhindar dari ancaman siksa neraka jahannam. Sebagai jawaban sikap kita terhadap peringatan Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-tahrim: 6).
Tekad untuk berjuang dan keikhlasan untuk berkorban saja tidaklah cukup. Nabiyullah Ibrahim AS dan putranya Ismail masih diuji dengan keteguhan iman melalui bisikan iblis. Setahap demi setahap mereka melewati godaan tersebut. Satu demi satu batu dilemparkan sbg tamsil dari pernyataan “perang” melawan iblis dengan segala bentuknya yang selalu akan muncul menggoda dikala seorang hamba Allah menelusuri ‘Shiratal Mustaqim” (jalan lurus yang diridhoi Allah SWT).
“Iblis menjawab: “Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur Taat.”
(QS. Al-a’raaf: 16-17).
Hamba-hamba Allah yang mulia.
Kini, iblis dalam bentuk manusia makin menunjukan eksistensinya. Hal itu ditampilkan oleh para pengikut sekularisme dan liberalisme. Mereka telah “menuhankan” akal dan hawa nafsu mereka. Gejala semacam ini sebenarnya sudah timbul sejak akhir abad ke-19, ketika secara gegabah FW Nietzsche seorang filosof Jerman (1844-1900) menyatakan : Tuhan sudah mati. Sebelumnya Fir’aun abad 18 yang bernama Imanuel Kant (1724- 1804) yang lahir di Jerman telah pula memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Ia menyatakan : beri saya material, niscaya akan saya perhatikan kepada kalian bagaimana caranya menciptakan alam semesta.
Hadirin, hamba-hamba yang dimuliakan Allah.
Dinegeri kita, keberadaan kaum sekularisme dan Liberalisme kini lebih terorganisir lagi dengan lahirnya kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL) , lewat artikel berjudul : Menyegarkan kembali Pemahaman Islam. Yang pernah dimuat Kompas (edisi 18 Nopember 2002 halaman 4-5) telah mempublikasikan penghinaan terhadap Islam dan kaum muslimin secara terbuka, koodinator JIL itu melakukan penghinaan yang sangat lengkap terhadap Allah SWT dan hukum hukumNya yang telah ditetapkan secara ekplisif, baik dalam Al-Qur’an maupun Sunah. Dia menyetakan “Tiada hukum tuhan yang ada adalah hukum manusia.”
Rasulullah SAW juga dihina dengan pernyataannya bahwa Rasulullah SAW hanyalah sekedar “ tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis”. Menurutnya Rasulullah yang disucikan Allah SWT hanyalah manusia biasa yang banyak kesalahannya. Ini jelas merupakan penghinaan yang nyata terhadap Rasulullah yang memperoleh gelar ma’shum ( terjaga dari kekeliruan menyampaikan risalah) dari Allah SWT. Gelar ini meyakinkan setiap mukmin bahwa beliau telah dilindungi Allah SWT dari kemungkinan kekeliruan dan kekilafan dalam menyampaikan risalah.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Sebagai umat islam kita dituntut bersatu dalam satu barisan dan perjuangan. tidak ada sedikitpun alasan untuk menempuh jalan yang terpecah belah diantara kita. Bahaya komunisme masih merupakan ancaman terberat. Dari masa kemasa, mereka selalu bangkit, berusaha memecah belah umat islam dan mendorong setiap muslim untuk melakukan penyelewengan pemikiran dan moral. Sekularisme adalah ancaman kedua yang menghampakan makna ideologis islam. Egoisme merupakan ancaman ketiga yang akan membawa manusia berlomba mengejar kepuasan pribadi tanpa menghiraukan kepentingan dan hak orang lain.
Kita membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk menghadapi dan mengatasi tantangan ini. Persatuan seperti yang Allah SWT gambarkan dalam firmanNya :
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali( dien ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,”(QS Al-Imran :103)
Persatuan umat harus didasari pada dua pilar : pertama, Persatuan yang didasari atas adanya titik tujuan yang sama, yaitu semata mencari ridha Allah SWT dalam segala langkah dan perjuangan. Rasul SAW bersabda :
“Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, dimana masing-masing saling menguatkan yang lain.”(HR.Bukhori M)
Kedua, Persatuan harus didasarkan pada derap langkah yang sama dalam perjuangan. Makna kata jami’an dalam ayat tersebut tidak membedakan antara individu satu dengan yang lain. Allah SWT Berfirman :
“ Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”.( QS Al-An biyaa :92)
Hadirin kaum muslim yang berbahagia
Namun sangat disayangkan, diantara kita masih ada yang bermental resepsionis, ingin terpampang semua mereknya. Mulai dari agama, partai, golongan, suku, sampai pribadinya. Padahal Rasulnya pernah menyatakan bahwa apa yang diberikan tangan kanan hendaknya tidak diketahui tangan kirinya. Sebuah gambaran tentang keikhlasan dan anti egoisme.
Betul, kita datang dari berbagai kabilah, suku, bangsa, bahasa dan warna kulit yang berbeda, kedudukan dan status sosial yang tidak sama. Namun jika kita telah sama memekikkan kalimat Allahu Akbar dan bersujud dihadapan Illahi, maka tidak ada lagi perbedaan diantara kita. Kita adalah umat yang satu, umat Muhammad yang senantiasa berpegang teguh kepada panji “Allahu Akbar, Laillaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.”
Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah
Hari-hari belakangan ini, ikatan ukhuwah dan keimanan kita tengah diuji oleh Allah SWT. Gempa dan gelombang Tsunami yang meluluhlantakan negri saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatra Utara, dua tahun yang lalu dengan korban ratusan ribu orang gugur menjadi syuhada, insya Allah. Serta ratusan ribu lainnya cidera, kehilangan harta benda, tempat tinggal, mata pencaharian dan sanak saudara, rasanya baru kemarin musibah itu terjadi bahkan sampai saat ini Allah SWT masih memberikan ujian bagi kita dengan angin puting beliung yang memporakporandakan pemukiman di Pulau jawa, Tanah longsor di Solok, gempa di Medan, banjir bandang di Nanggroe Aceh Darussalam dan Lumpur Lapindo yang masih menyisakan masalah, seolah olah tiada berhenti. Astaghfirullah... Dengan musibah itu, ada keluarga yang kehilangan istri, suami, orang tua ataupun anak yang dicintainya. Tak terhitung jumlah anak-anak yatim piatu yang tak lagi merasakan hangatnya dekapan ayah-bundanya.
Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah SWT
Mereka yang sedang menangis, meratap, merintih, menjerit dan memekik dari himpitan musibah ini adalah saudara-saudara kita, mereka merupakan bagian dari tubuh kita sebagaimana dipesankan Rasulullah SAW. Kita harus mencintai mereka seperti mencintai diri kita sendiri. Bukan dalam slogan dan kata-kata, tetapi dalam wujud nyata! Dalam sebuah sabdanya Rasulullah SAW mengancam keimanan seseorang dengan menafikan kesempurnaan iman seseorang yang belum mampu mencintai saudaranya sesama Mukmin seperti cintanya terhadap dirinya sendiri (HR.Ahmad, Bukhori, Muslim, Turmudzi, Nasa’i danIbnu Majah).
Marilah kita sejenak menundukkan kepala, dengan penuh keikhlasan kita berdo’a memohon bimbingan dan pertolonganNya. Marilah kita menengadahkan kedua telapak tangan kita sambil meluluhkan perasaan dan menjernihkan pikiran.
Allahumma ya Allah.... Kami berkumpul di tempat yang mulia ini, memuji kebesaranMu, dan dengan segala kesadaran yang utuh, kami semua adalah milikMu Ya Allah...pengorbanan para nabi, syuhada dan waliyullah telah mengetarkan hati kami, betapa terasa kecilnya diri-diri kami. Karena itu ya Allah tumbuhkanlah ruhul jihad dalam diri kami, hidupkanlah semangat berkorban dalam jiwa kami, suburkanlah semangat pengabdian dalam segala tingkah langkah kami agar negri ini makmur di bawah naungan ridhoMu, agar Islam menjadi berkah dan rahmat bagi alam semesta.
Rabbana Ya Allah, yang Maha pengampun terlalu banyak dosa dan kesalahan yang telah kami perbuat selama ini, pada hari ini yang suci dan mulia ini kami mohon ampunanmu ya Allah sungguh ampunanMu adalah lebih luas daripada dosa-dosa yang kami lakukan, bersihkanlah jiwa raga kami dari dosa dan kesalahan ketika ajal nanti mengantaarkan kami menuju kehadiratmu.
Allahumma Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami kasihanilah mereka berdua seperti mereka pernah mengasihi dan menyayangi kami sejak kecil dan ampuni dosa saudara-saudara kami kaum muslimin dan muslimat berilah kami taufik dan hidayah berkah serta rahmat dan keridhoanMu kepada para pemimpin kami kuatkanlah ketika mereka lemah, luruskanlah ketika mereka keliru, berilah bimbingan agar dapat membawa kami kepada jalan meraih keridhoanMu.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim... hari ini kami berdoa untuk saudara-saudara kami seiman yang sedang melaksanakan ibadah haji berikanlah kemudahan dalam melaksanakan rukun dan wajib hajinya jadikannlah sepulangnya menjadi haji yang mabrur. Bagi saudara kami yang sedang tertimpa musibah berilah kesabaran dan ketabahan, berilah jalan keluar untuk mendapatkan keridhoanMu. Bagi saudara kami yang telah meninggal dunia terimalah arwah saudara-saudara kami tempatkanlah mereka di tempat yang mulia disisiMu bersama para nabi dan Rasul para waliyullah dan para syuhada. Jadikanlah musibah ini kifarat bagi dosa-dosa dan kekhilafan mereka dan jadikanlah musibah ini ladang bagi saudara-saudara kami untuk memperoleh pahala tanpa hisab sesuai janjiMu. Ya Allah. Tumbuhkanlah terus dalam sanubari kami semangat untuk menolong saudara-saudara kami agar mereka kembali dapat hidup layak seperti sedia kala.
Allahumma Ya Allah cucurkanlah rahmat berkah karunia taufiq dan hidayahMu serta inayahMu bimbinglah kami semua dengan cahaya hidayahmu agar kami senantiasa mampu menempatkan diri di jalan yang engkau ridhoi. Berilah kami kesempatan untuk menikmati kebahagiaan hidup di dunia ini yang hakiki dan abadi dalam ridhoMu diakhirat nanti. Amin ya Rabbal Alamin.
ANCAM PERSATUAN UMAT
Disampaikan oleh: Ir. Gatot Sudjono
Idul Adha 1427 H/2006 di Masjid Al-Muhajirin
Jatikramat Indah I-Bekasi
Allahu Akbar 3X Allahu Akbar 3X Allahu Akbar 3X Allahu Akbar wa lillahilhamdu
Hadirin jama’ah Idul Adha rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Rahman, yang Maha kasih terhadap seluruh makhluknya tanpa pilih kasih. Allah yang Maha Rahim, yang Maha penyayang kepada hamba-Nya yang beriman dan beribadah kepada-Nya.
Kita bersyukur kepada Allah SWT, hanya Berkah, Rahmat, Karunia, Taufiq dan Hidayah-Nya semata kita dapat berkumpul di pagi hari yang sangat mulia dan berbahagia ini. Saat ini, lebih dua juta kaum muslimin tengah beribadah haji di Tanah suci. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia, dari bangsa, bahasa, golongan, suku, warna kulit, dan status sosial yang beraneka ragam. Namun dari lidah mereka meluncur satu kalimat :
“Labbaika, Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik. Inna alhamda wa al ni’mata laka wa al-mulk, la syarika laka”
(“Aku penuhi panggilan-Mu…Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan kekuasaan, milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”)
Kalimat itu melambangkan persatuan, kesatuan dan keikhlasan mengabdi semata-mata demi memenuhi panggilan Illahi. Berjuta-juta hewan ternak disembelih. Dagingnya dibagikan kepada mereka yang jarang menikmatinya. Sementara darahnya dibiarkan bercucuran di muka bumi, sebagai tamsil dari pengabdian dan pengorbanan makhluk kepada penciptanya.
Hadirin kaum Muslimin Rahimakumullah
Kemarin umat Islam berkumpul dipadang Arafah. Ditengah tengah padang pasir yang gersang, di bawah terik panas matahari yang menyengat. Pakaian mereka serba putih melambangkan kesucian hati mereka. Kaum pria hanya mengenakan dua helai kain tanpa jahitan. Tak bisa dibedakan antara yang kaya dengan yang miskin., antara pejabat dan rakyat biasa. Dari balik tenda, terdengar suara dzikir mereka. Diiringi derai airmata yang berjatuhan membasahi pipi yang gersang, teringat akan dosa dan kesalahan yang telah begitu banyak dilakukan.
Dan pada hari ini, mereka kumpul di Mina. Di tempat inilah pengorbanan hakiki pernah diproklamirkan. Ketika Nabiyullah Ibrahim AS merelakan putra tercintanya Ismail untuk disembelih. Seruan ini disambut oleh putranya dengan penuh keikhlasan, dengan menyatakan :
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat: 102)
Demikianlah keduanya rela berkorban di jalan Allah, sebagai bentuk pengorbanan termahal dalam sejarah manusia. Walaupun leher Ismail tidak terpenggal, dan digantikan Allah dengan seekor qibas, namun peristiwa itu menyisakan makna yang terlukis sepanjang masa. Betapa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan selalu mensyaratkan pengorbanan sebagai konsekuensi logis. Tanpa merelakan kepentingan pribadi yang seringkali duniawi, tujuan perjuangan yang menyangkut maslahat umat tak mungkin tercapai. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3).
Seorang mukmin dituntut untuk rela berkorban apa saja. Tak peduli harta, pangkat, jabatan, bahkan nyawa sekalipun jika dimaksudkan sebagai pengabdian terhadap Allah SWT dapat terwujud dan umat manusia dapat terhindar dari kekufuran dan kemusyrikan. Setiap Mukmin harus ikhlas berkorban. Pengorbanan dalam bentuk apapun, sepanjang didasari keikhlasan niat semata mencari ridho Allah pasti tidak akan sia-sia disisi-Nya. Ia yakin betul akan janji Allah SWT :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111).
Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia
Perjuangan yang kita lakukan harus didasari atas niat semata mencari ridha Allah SWT. Pengorbanan kita juga harus ikhlas karena-Nya, dengan menyerahkan sebagian kemerdekaan pribadi untuk kepentingan dan kebahagiaan bersama. Sebagai suami/ istri, sebagai orang tua/ anak. Kita berjuang dan berkorban agar seluruh keluarga kita terhindar dari ancaman siksa neraka jahannam. Sebagai jawaban sikap kita terhadap peringatan Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-tahrim: 6).
Tekad untuk berjuang dan keikhlasan untuk berkorban saja tidaklah cukup. Nabiyullah Ibrahim AS dan putranya Ismail masih diuji dengan keteguhan iman melalui bisikan iblis. Setahap demi setahap mereka melewati godaan tersebut. Satu demi satu batu dilemparkan sbg tamsil dari pernyataan “perang” melawan iblis dengan segala bentuknya yang selalu akan muncul menggoda dikala seorang hamba Allah menelusuri ‘Shiratal Mustaqim” (jalan lurus yang diridhoi Allah SWT).
“Iblis menjawab: “Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur Taat.”
(QS. Al-a’raaf: 16-17).
Hamba-hamba Allah yang mulia.
Kini, iblis dalam bentuk manusia makin menunjukan eksistensinya. Hal itu ditampilkan oleh para pengikut sekularisme dan liberalisme. Mereka telah “menuhankan” akal dan hawa nafsu mereka. Gejala semacam ini sebenarnya sudah timbul sejak akhir abad ke-19, ketika secara gegabah FW Nietzsche seorang filosof Jerman (1844-1900) menyatakan : Tuhan sudah mati. Sebelumnya Fir’aun abad 18 yang bernama Imanuel Kant (1724- 1804) yang lahir di Jerman telah pula memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Ia menyatakan : beri saya material, niscaya akan saya perhatikan kepada kalian bagaimana caranya menciptakan alam semesta.
Hadirin, hamba-hamba yang dimuliakan Allah.
Dinegeri kita, keberadaan kaum sekularisme dan Liberalisme kini lebih terorganisir lagi dengan lahirnya kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL) , lewat artikel berjudul : Menyegarkan kembali Pemahaman Islam. Yang pernah dimuat Kompas (edisi 18 Nopember 2002 halaman 4-5) telah mempublikasikan penghinaan terhadap Islam dan kaum muslimin secara terbuka, koodinator JIL itu melakukan penghinaan yang sangat lengkap terhadap Allah SWT dan hukum hukumNya yang telah ditetapkan secara ekplisif, baik dalam Al-Qur’an maupun Sunah. Dia menyetakan “Tiada hukum tuhan yang ada adalah hukum manusia.”
Rasulullah SAW juga dihina dengan pernyataannya bahwa Rasulullah SAW hanyalah sekedar “ tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis”. Menurutnya Rasulullah yang disucikan Allah SWT hanyalah manusia biasa yang banyak kesalahannya. Ini jelas merupakan penghinaan yang nyata terhadap Rasulullah yang memperoleh gelar ma’shum ( terjaga dari kekeliruan menyampaikan risalah) dari Allah SWT. Gelar ini meyakinkan setiap mukmin bahwa beliau telah dilindungi Allah SWT dari kemungkinan kekeliruan dan kekilafan dalam menyampaikan risalah.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Sebagai umat islam kita dituntut bersatu dalam satu barisan dan perjuangan. tidak ada sedikitpun alasan untuk menempuh jalan yang terpecah belah diantara kita. Bahaya komunisme masih merupakan ancaman terberat. Dari masa kemasa, mereka selalu bangkit, berusaha memecah belah umat islam dan mendorong setiap muslim untuk melakukan penyelewengan pemikiran dan moral. Sekularisme adalah ancaman kedua yang menghampakan makna ideologis islam. Egoisme merupakan ancaman ketiga yang akan membawa manusia berlomba mengejar kepuasan pribadi tanpa menghiraukan kepentingan dan hak orang lain.
Kita membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk menghadapi dan mengatasi tantangan ini. Persatuan seperti yang Allah SWT gambarkan dalam firmanNya :
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali( dien ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,”(QS Al-Imran :103)
Persatuan umat harus didasari pada dua pilar : pertama, Persatuan yang didasari atas adanya titik tujuan yang sama, yaitu semata mencari ridha Allah SWT dalam segala langkah dan perjuangan. Rasul SAW bersabda :
“Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, dimana masing-masing saling menguatkan yang lain.”(HR.Bukhori M)
Kedua, Persatuan harus didasarkan pada derap langkah yang sama dalam perjuangan. Makna kata jami’an dalam ayat tersebut tidak membedakan antara individu satu dengan yang lain. Allah SWT Berfirman :
“ Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”.( QS Al-An biyaa :92)
Hadirin kaum muslim yang berbahagia
Namun sangat disayangkan, diantara kita masih ada yang bermental resepsionis, ingin terpampang semua mereknya. Mulai dari agama, partai, golongan, suku, sampai pribadinya. Padahal Rasulnya pernah menyatakan bahwa apa yang diberikan tangan kanan hendaknya tidak diketahui tangan kirinya. Sebuah gambaran tentang keikhlasan dan anti egoisme.
Betul, kita datang dari berbagai kabilah, suku, bangsa, bahasa dan warna kulit yang berbeda, kedudukan dan status sosial yang tidak sama. Namun jika kita telah sama memekikkan kalimat Allahu Akbar dan bersujud dihadapan Illahi, maka tidak ada lagi perbedaan diantara kita. Kita adalah umat yang satu, umat Muhammad yang senantiasa berpegang teguh kepada panji “Allahu Akbar, Laillaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.”
Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah
Hari-hari belakangan ini, ikatan ukhuwah dan keimanan kita tengah diuji oleh Allah SWT. Gempa dan gelombang Tsunami yang meluluhlantakan negri saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatra Utara, dua tahun yang lalu dengan korban ratusan ribu orang gugur menjadi syuhada, insya Allah. Serta ratusan ribu lainnya cidera, kehilangan harta benda, tempat tinggal, mata pencaharian dan sanak saudara, rasanya baru kemarin musibah itu terjadi bahkan sampai saat ini Allah SWT masih memberikan ujian bagi kita dengan angin puting beliung yang memporakporandakan pemukiman di Pulau jawa, Tanah longsor di Solok, gempa di Medan, banjir bandang di Nanggroe Aceh Darussalam dan Lumpur Lapindo yang masih menyisakan masalah, seolah olah tiada berhenti. Astaghfirullah... Dengan musibah itu, ada keluarga yang kehilangan istri, suami, orang tua ataupun anak yang dicintainya. Tak terhitung jumlah anak-anak yatim piatu yang tak lagi merasakan hangatnya dekapan ayah-bundanya.
Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah SWT
Mereka yang sedang menangis, meratap, merintih, menjerit dan memekik dari himpitan musibah ini adalah saudara-saudara kita, mereka merupakan bagian dari tubuh kita sebagaimana dipesankan Rasulullah SAW. Kita harus mencintai mereka seperti mencintai diri kita sendiri. Bukan dalam slogan dan kata-kata, tetapi dalam wujud nyata! Dalam sebuah sabdanya Rasulullah SAW mengancam keimanan seseorang dengan menafikan kesempurnaan iman seseorang yang belum mampu mencintai saudaranya sesama Mukmin seperti cintanya terhadap dirinya sendiri (HR.Ahmad, Bukhori, Muslim, Turmudzi, Nasa’i danIbnu Majah).
Marilah kita sejenak menundukkan kepala, dengan penuh keikhlasan kita berdo’a memohon bimbingan dan pertolonganNya. Marilah kita menengadahkan kedua telapak tangan kita sambil meluluhkan perasaan dan menjernihkan pikiran.
Allahumma ya Allah.... Kami berkumpul di tempat yang mulia ini, memuji kebesaranMu, dan dengan segala kesadaran yang utuh, kami semua adalah milikMu Ya Allah...pengorbanan para nabi, syuhada dan waliyullah telah mengetarkan hati kami, betapa terasa kecilnya diri-diri kami. Karena itu ya Allah tumbuhkanlah ruhul jihad dalam diri kami, hidupkanlah semangat berkorban dalam jiwa kami, suburkanlah semangat pengabdian dalam segala tingkah langkah kami agar negri ini makmur di bawah naungan ridhoMu, agar Islam menjadi berkah dan rahmat bagi alam semesta.
Rabbana Ya Allah, yang Maha pengampun terlalu banyak dosa dan kesalahan yang telah kami perbuat selama ini, pada hari ini yang suci dan mulia ini kami mohon ampunanmu ya Allah sungguh ampunanMu adalah lebih luas daripada dosa-dosa yang kami lakukan, bersihkanlah jiwa raga kami dari dosa dan kesalahan ketika ajal nanti mengantaarkan kami menuju kehadiratmu.
Allahumma Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami kasihanilah mereka berdua seperti mereka pernah mengasihi dan menyayangi kami sejak kecil dan ampuni dosa saudara-saudara kami kaum muslimin dan muslimat berilah kami taufik dan hidayah berkah serta rahmat dan keridhoanMu kepada para pemimpin kami kuatkanlah ketika mereka lemah, luruskanlah ketika mereka keliru, berilah bimbingan agar dapat membawa kami kepada jalan meraih keridhoanMu.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim... hari ini kami berdoa untuk saudara-saudara kami seiman yang sedang melaksanakan ibadah haji berikanlah kemudahan dalam melaksanakan rukun dan wajib hajinya jadikannlah sepulangnya menjadi haji yang mabrur. Bagi saudara kami yang sedang tertimpa musibah berilah kesabaran dan ketabahan, berilah jalan keluar untuk mendapatkan keridhoanMu. Bagi saudara kami yang telah meninggal dunia terimalah arwah saudara-saudara kami tempatkanlah mereka di tempat yang mulia disisiMu bersama para nabi dan Rasul para waliyullah dan para syuhada. Jadikanlah musibah ini kifarat bagi dosa-dosa dan kekhilafan mereka dan jadikanlah musibah ini ladang bagi saudara-saudara kami untuk memperoleh pahala tanpa hisab sesuai janjiMu. Ya Allah. Tumbuhkanlah terus dalam sanubari kami semangat untuk menolong saudara-saudara kami agar mereka kembali dapat hidup layak seperti sedia kala.
Allahumma Ya Allah cucurkanlah rahmat berkah karunia taufiq dan hidayahMu serta inayahMu bimbinglah kami semua dengan cahaya hidayahmu agar kami senantiasa mampu menempatkan diri di jalan yang engkau ridhoi. Berilah kami kesempatan untuk menikmati kebahagiaan hidup di dunia ini yang hakiki dan abadi dalam ridhoMu diakhirat nanti. Amin ya Rabbal Alamin.
Jumat, 04 Juli 2008
Amaliyah Ramadhan
Amaliyah Ramadhan
Yang dicontohkan Rasulullah SAW
(Ir. Gatot Sudjono)
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(QS.AlBaqarah 2:183)
Artinya :”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS.Al Baqarah 2:185)
Beberapa amaliyah Ramadhan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
As-shiyam (Puasa)
Tilawah/ tadarus Al Qur’an
Ith’am ath tho’am ( memberikan makanan & sedekah )
Memperhatikan kesehatan
Memperhatikan harmonis keluarga
Memperhatikan aktivitas dakwah/taklim dan sosial(memperbanyak sedekah)
Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)
I’tikaf si masjid
Lailatul Qadr
Umroh
Zakat Fitrah
1.As-shiyam (puasa)
- Berwawasan yang benar tentang puasa,
- Tidak meninggalkan puasa walaupun sehari kecuali halangan syar’i
- Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi nilai shiyam
- Bersungguh-sungguh melakukan shiyam sesuai aturan
- Sahur, makanan yang berkah, sahur diakhirkan
- Ifthar (berbuka puasa) dengan menyegerakannya
- Berdoa sesudah sehari menyelesaikan ibadah puasa
2.Tilawah / Tadarus Al Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, Imam Az-Zuhri berkata
“Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama selain shiyam adalah membaca Al Qur’an.”
3. Ith’am ath tho’am ( memberikan makanan & sedekah)
Rasulullah SAW bersabda:” Barangsiapa yang memberi ifthar (makanan berbuka) kepada orang-orang yang berpuasa maka ia mendapat pahala orang yang berpuasa itu tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasai)
4. Memperhatikan kesehatan
- menyikat gigi dengan siwak
- Berobat seperti berbekam
- Memperhatikan penampilan dengan baik tidak dengan wajah cemberut, kusut
5. Memperhatikan Harmonis Keluarga
Rasulullah selalu memperhatikan hak-hak keluarga selama berpuasa seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau ‘Aisyah dan Ummu Salamah ra : Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga, selam bulan Ramadhan tetap memenuhi hak-hak keluarga beliau, bahkan ketika beliau I’tikaf harmonis itu tetap terjaga (‘Aisyah pernah menyisir rambut beliau ketika beliau I’tikaf).
6. Memperhatikan aktivitas dakwah/taklim dan social memperbanyak sedekah
Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Beliau melakukan perjalanan ke Badar dan ke Mekah.
Rasulullah SAW adalah orang yang banyak memberi dan menolong, lebih lebih pada bulan Ramadhan.
Rasulullah bersabda :” Afdhalulsh shadaqati shadaqatun fi ramadhan (Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan “)(HR.Thurmudzi)
7. Qiyam Ramadham (Sholat Tarawih)
Kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah Qiyam Al-Lail yang popular dengan sholat tarawih. Untuk shalatnya ada yang 11 rakaat, dengan pelaksanaannya sebagai berikut : 2 x 4 rekaat ditambah witir 3 rekaat; 4 x 2 rekaat ditambah witir 3 rekaat dan 5 x 2 rekaat ditambah witir 1 rekaat. Adapun ada yang melaksanakan 23 rakaat ( 10 x 2 rekaat ditambah witir 3 rekaat) diambil dari contoh yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khatab dan para sahabat.
8. I’tikaf di masjid
I’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di mesjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan Taqarrub kepada Allah SWT. Keutamaannya adalah Rasulullah, para sahabat dan para istri Rasulullah senantiasa ibadah I’tikaf ini
Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW dalam bulan ramadhan ialah I’tikaf di mesjid dengan niat ibadah kepada Allah SWT. Hal ini beliau lakukan pada awal ramadhan, pertengahan ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir ramadhan.
Syarat-syarta I’tikaf:
1. Muslim
2. berakal
3. Suci dari janabah (junub), haod dan nifas
Rukun-rukun I’tikaf
1. Niat I’tikaf
2. Berdiam di mesjid
Waktu I’tikaf
Khusus I’tikaf Ramadhan waktunya mulai sebelum terbenamnya matahari malam ke 21, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang ingin I’tikaf denganku, hendaklah ia beri’tikaf 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Riwayat Bukhari)
Adapun waktu berakhirnya I’tikaf adalah setelah terbenamnya matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi para ulama sepakat akhir I’tikaf lebih utama adalah menunggu sholad Ied.
9. Lail Al-Qadr
artinya :” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? . Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS.Al Qadr 97:1-5)
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam (Sholat malam) pada Lailatu Qadr atas dasar iman serta semata-mata mencari ridho Allah, maka Allah mengampuni dosa-dosa yang pernah ia lakukan”.
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam bulan Ramadhan dan berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk kemashlahatan umat Muhammad dampai hari kiamat.
Adapun para ulama berpendapat yang beragam antara lain:
Lailatul Qadr terjadi pada malam 17,21,23,27 Ramadhan.
Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.
Tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadr Rasulullah SAW bersabda:
“Pada saat terjadinya Lailatul Qadr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup awan”. (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
Upaya menggapai Lailatul Qadr
Lebih sungguh2 dalm mengerjakan ibadah pada bulan ramadhan
I’tikaf
Melakukan Qiyamul lail berjamaah(Sholat tarawih)
Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan dengan do’a
“Allahumma innaka afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, Engkaulah maha pengampun, maka ampunilah kami)
10. Umroh
Umroh/haji kecil baik dilakukan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat ganda sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah SAW:
“Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan Haji bersama Rasulullah SAW”. (HR Bukhari, Muslim)
11. Zakat Fitrah
Pada hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang dikerjakan adalah membayar zakat fitrah, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat islam baik laki-laki maupun perempuan, dewasa/anak2 sebesar 2,5 kg/3,5 liter makanan pokok.
Zakat fitrah berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
KESIMPULAN
Amaliyah Ramadhan yang harus kita pertahankan pada bulan bulan yang lain di luar bulan Ramadhan adalah:
Sholah 5 waktu berjamah
Shaum/puasa sunnah senin dan kamis dll
Tahjjud/Sholat malam
Tadarrus/ baca Qur’an
Dzikrullah
Sedekah/Infaq dan Zakat
Bersyukur dan sabar
Menuntut ilmu agama/taklim
Membina Islam dalam keluarga
Mendakwahkan Islam
Yang dicontohkan Rasulullah SAW
(Ir. Gatot Sudjono)
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(QS.AlBaqarah 2:183)
Artinya :”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS.Al Baqarah 2:185)
Beberapa amaliyah Ramadhan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
As-shiyam (Puasa)
Tilawah/ tadarus Al Qur’an
Ith’am ath tho’am ( memberikan makanan & sedekah )
Memperhatikan kesehatan
Memperhatikan harmonis keluarga
Memperhatikan aktivitas dakwah/taklim dan sosial(memperbanyak sedekah)
Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)
I’tikaf si masjid
Lailatul Qadr
Umroh
Zakat Fitrah
1.As-shiyam (puasa)
- Berwawasan yang benar tentang puasa,
- Tidak meninggalkan puasa walaupun sehari kecuali halangan syar’i
- Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi nilai shiyam
- Bersungguh-sungguh melakukan shiyam sesuai aturan
- Sahur, makanan yang berkah, sahur diakhirkan
- Ifthar (berbuka puasa) dengan menyegerakannya
- Berdoa sesudah sehari menyelesaikan ibadah puasa
2.Tilawah / Tadarus Al Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, Imam Az-Zuhri berkata
“Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama selain shiyam adalah membaca Al Qur’an.”
3. Ith’am ath tho’am ( memberikan makanan & sedekah)
Rasulullah SAW bersabda:” Barangsiapa yang memberi ifthar (makanan berbuka) kepada orang-orang yang berpuasa maka ia mendapat pahala orang yang berpuasa itu tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasai)
4. Memperhatikan kesehatan
- menyikat gigi dengan siwak
- Berobat seperti berbekam
- Memperhatikan penampilan dengan baik tidak dengan wajah cemberut, kusut
5. Memperhatikan Harmonis Keluarga
Rasulullah selalu memperhatikan hak-hak keluarga selama berpuasa seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau ‘Aisyah dan Ummu Salamah ra : Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga, selam bulan Ramadhan tetap memenuhi hak-hak keluarga beliau, bahkan ketika beliau I’tikaf harmonis itu tetap terjaga (‘Aisyah pernah menyisir rambut beliau ketika beliau I’tikaf).
6. Memperhatikan aktivitas dakwah/taklim dan social memperbanyak sedekah
Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Beliau melakukan perjalanan ke Badar dan ke Mekah.
Rasulullah SAW adalah orang yang banyak memberi dan menolong, lebih lebih pada bulan Ramadhan.
Rasulullah bersabda :” Afdhalulsh shadaqati shadaqatun fi ramadhan (Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan “)(HR.Thurmudzi)
7. Qiyam Ramadham (Sholat Tarawih)
Kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah Qiyam Al-Lail yang popular dengan sholat tarawih. Untuk shalatnya ada yang 11 rakaat, dengan pelaksanaannya sebagai berikut : 2 x 4 rekaat ditambah witir 3 rekaat; 4 x 2 rekaat ditambah witir 3 rekaat dan 5 x 2 rekaat ditambah witir 1 rekaat. Adapun ada yang melaksanakan 23 rakaat ( 10 x 2 rekaat ditambah witir 3 rekaat) diambil dari contoh yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khatab dan para sahabat.
8. I’tikaf di masjid
I’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di mesjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan Taqarrub kepada Allah SWT. Keutamaannya adalah Rasulullah, para sahabat dan para istri Rasulullah senantiasa ibadah I’tikaf ini
Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW dalam bulan ramadhan ialah I’tikaf di mesjid dengan niat ibadah kepada Allah SWT. Hal ini beliau lakukan pada awal ramadhan, pertengahan ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir ramadhan.
Syarat-syarta I’tikaf:
1. Muslim
2. berakal
3. Suci dari janabah (junub), haod dan nifas
Rukun-rukun I’tikaf
1. Niat I’tikaf
2. Berdiam di mesjid
Waktu I’tikaf
Khusus I’tikaf Ramadhan waktunya mulai sebelum terbenamnya matahari malam ke 21, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang ingin I’tikaf denganku, hendaklah ia beri’tikaf 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Riwayat Bukhari)
Adapun waktu berakhirnya I’tikaf adalah setelah terbenamnya matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi para ulama sepakat akhir I’tikaf lebih utama adalah menunggu sholad Ied.
9. Lail Al-Qadr
artinya :” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? . Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.(QS.Al Qadr 97:1-5)
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam (Sholat malam) pada Lailatu Qadr atas dasar iman serta semata-mata mencari ridho Allah, maka Allah mengampuni dosa-dosa yang pernah ia lakukan”.
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam bulan Ramadhan dan berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk kemashlahatan umat Muhammad dampai hari kiamat.
Adapun para ulama berpendapat yang beragam antara lain:
Lailatul Qadr terjadi pada malam 17,21,23,27 Ramadhan.
Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.
Tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadr Rasulullah SAW bersabda:
“Pada saat terjadinya Lailatul Qadr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup awan”. (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
Upaya menggapai Lailatul Qadr
Lebih sungguh2 dalm mengerjakan ibadah pada bulan ramadhan
I’tikaf
Melakukan Qiyamul lail berjamaah(Sholat tarawih)
Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan dengan do’a
“Allahumma innaka afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, Engkaulah maha pengampun, maka ampunilah kami)
10. Umroh
Umroh/haji kecil baik dilakukan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat ganda sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah SAW:
“Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan Haji bersama Rasulullah SAW”. (HR Bukhari, Muslim)
11. Zakat Fitrah
Pada hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang dikerjakan adalah membayar zakat fitrah, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat islam baik laki-laki maupun perempuan, dewasa/anak2 sebesar 2,5 kg/3,5 liter makanan pokok.
Zakat fitrah berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
KESIMPULAN
Amaliyah Ramadhan yang harus kita pertahankan pada bulan bulan yang lain di luar bulan Ramadhan adalah:
Sholah 5 waktu berjamah
Shaum/puasa sunnah senin dan kamis dll
Tahjjud/Sholat malam
Tadarrus/ baca Qur’an
Dzikrullah
Sedekah/Infaq dan Zakat
Bersyukur dan sabar
Menuntut ilmu agama/taklim
Membina Islam dalam keluarga
Mendakwahkan Islam
RINGKASAN KHUTBAH RAMADHAN
Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah, Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu di ijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu di hari kiamat.
Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu sholatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah azza wa jalla memandang hamba-hambaNya dengan penuh kasih, Dia menjawab mereka ketika mereka menyeruNya, menyambut mereka ketika mereka memanggilNya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepadaNya.
Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban(dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
Siapa yang membaguskan akhlaqnya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaanNya di hari kiamat. Barang siapa menahan kejelekkannya di bulan ini, allah akan menahan murkaNya pada hari berjumpa denga-Nya.
Barang siapa melakukan sholat sunah di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa melakukan sholat fardhu baginya ganjaran seperti melakukan 70 sholat fardhu di bulan lain. Barang siapa memperbanyak sholawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.
Apa amal yang paling utama di bulan ini? Jawab Nabi :” Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu di ijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu di hari kiamat.
Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu sholatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah azza wa jalla memandang hamba-hambaNya dengan penuh kasih, Dia menjawab mereka ketika mereka menyeruNya, menyambut mereka ketika mereka memanggilNya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepadaNya.
Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban(dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
Siapa yang membaguskan akhlaqnya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaanNya di hari kiamat. Barang siapa menahan kejelekkannya di bulan ini, allah akan menahan murkaNya pada hari berjumpa denga-Nya.
Barang siapa melakukan sholat sunah di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa melakukan sholat fardhu baginya ganjaran seperti melakukan 70 sholat fardhu di bulan lain. Barang siapa memperbanyak sholawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.
Apa amal yang paling utama di bulan ini? Jawab Nabi :” Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Langganan:
Komentar (Atom)

.jpg)



