Agar Pernikahan Membawa Berkah
Di saat seseorang melaksanakan aqad pernikahan, maka ia akan mendapatkan banyak ucapan do’a dari para undangan dengan do’a keberkahan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW; “Semoga Allah memberkahimu, dan menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Do’a ini sarat dengan makna yang mendalam, bahwa pernikahan seharusnya akan mendatangkan banyak keberkahan bagi pelakunya. Namun kenyataannya, kita mendapati banyak fenomena yang menunjukkan tidak adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah pernikahan, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan keluarga du’at (kader dakwah). Wujud ketidakberkahan dalam pernikahan itu bisa dilihat dari berbagai segi, baik yang bersifat materil ataupun non materil.
Munculnya berbagai konflik dalam keluarga tidak jarang berawal dari permasalahan ekonomi. Boleh jadi ekonomi keluarga yang selalu dirasakan kurang kemudian menyebabkan menurunnya semangat beramal/beribadah. Sebaliknya mungkin juga secara materi sesungguhnya sangat mencukupi, akan tetapi melimpahnya harta dan kemewahan tidak membawa kebahagiaan dalam pernikahannya.
Seringkali kita juga menemui kenyataan bahwa seseorang tidak pernah berkembang kapasitasnya walau pun sudah menikah. Padahal seharusnya orang yang sudah menikah kepribadiannya makin sempurna; dari sisi wawasan dan pemahaman makin luas dan mendalam, dari segi fisik makin sehat dan kuat, secara emosi makin matang dan dewasa, trampil dalam berusaha, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan teratur dalam aktifitas kehidupannya sehingga dirasakan manfaat keberadaannya bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Realitas lain juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, sering muncul konflik suami isteri yang berujung dengan perceraian. Juga muncul anak-anak yang terlantar (broken home) tanpa arahan sehingga terperangkap dalam pergaulan bebas dan narkoba. Semua itu menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.
Memperhatikan fenomena kegagalan dalam menempuh kehidupan rumah tangga sebagaimana tersebut di atas, sepatutnya kita melakukan introspeksi (muhasabah) terhadap diri kita, apakah kita masih konsisten (istiqomah) dalam memegang teguh rambu-rambu berikut agar tetap mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga ?
1. Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkap dalam Alqur’an (QS. Ar Rum:21), sehingga bernilai sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah-Nya (QS. An-Nur:32) yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan Sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits : ”Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku” (HR.At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah Rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara (prosesi) pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul. Misalnya saat hendak menentukan pasangan hidup hendaknya lebih mengutamakan kriteria ad Dien (agama/akhlaq) sebelum hal-hal lainnya (kecantikan/ketampanan, keturunan, dan harta); dalam prosesi pernikahan (walimatul ‘urusy) hendaknya juga dihindari hal-hal yang berlebihan (mubadzir), tradisi yang menyimpang (khurafat) dan kondisi bercampur baur (ikhtilath). Kemudian dalam kehidupan berumah tangga pasca pernikahan hendaknya berupaya membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri, artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Allah SWT akan memberikan pertolong-an kepada mereka yang mengambil langkah ini; “ Tiga golongan yang wajib Aku (Allah) menolongnya, salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Tarmidzi)
Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syahsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah, artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktifitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.
2. Sikap saling terbuka (Mushorohah)
Secara fisik suami isteri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), dan sikap (mauqif) serta tingkah laku (suluk), sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami/isteri-nya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) di antara keduanya. Hal itu dapat dicapai bila suami/isteri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/isteri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/isteri. Jika hal yang demikian terjadi hal yang demikian, hendaknya suami/isteri segera introspeksi (bermuhasabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/isteri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.
3. Sikap toleran (Tasamuh)
Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian (seperti yang Allah sebutkan dalam QS. Albaqarah:187), maka suami/isteri harus mampu mem-percantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kelemahan/kekurangan yang ada.
Prinsip “hunna libasullakum wa antum libasullahun (QS. 2:187) antara suami dan isteri harus selalu dipegang, karena pada hakikatnya suami/isteri telah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipandang secara terpisah. Kebaikan apapun yang ada pada suami merupakan kebaikan bagi isteri, begitu sebaliknya; dan kekurangan/ kelemahan apapun yang ada pada suami merupakan kekurangan/kelemahan bagi isteri, begitu sebaliknya; sehingga muncul rasa tanggung jawab bersama untuk memupuk kebaikan yang ada dan memperbaiki kelemahan yang ada.
Sikap toleran juga menuntut adanya sikap mema’afkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al ‘Afwu yaitu mema’afkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu mema’afkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfirah yaitu memintakan ampun pada Allah untuk orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali sikap ini belum menjadi kebiasaan yang melekat, sehingga kesalahan-kesalahan kecil dari pasangan suami/isteri kadangkala menjadi awal konflik yang berlarut-larut. Tentu saja “mema’afkan” bukan berarti “membiarkan” kesalahan terus terjadi, tetapi mema’afkan berarti berusaha untuk memberikan perbaikan dan peningkatan.
4. Komunikasi (Musyawarah)
Tersumbatnya saluran komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunikasi sangat penting, disamping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman. Kesibukan masing-masing jangan sampai membuat komunikasi suami-isteri atau orang tua-anak menjadi terputus. Banyak saat/kesempatan yang bisa dimanfaatkan, sehingga waktu pertemuan yang sedikit bisa memberikan kesan yang baik dan mendalam yaitu dengan cara memberikan perhatian (empati), kesediaan untuk mendengar, dan memberikan respon berupa jawaban atau alternatif solusi. Misalnya saat bersama setelah menunaikan shalat berjama’ah, saat bersama belajar, saat bersama makan malam, saat bersama liburan (rihlah), dan saat-saat lain dalam interaksi keseharian, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi berupa surat, telephone, email, dsb.
Alqur’an dengan indah menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu berlangsung dalam keluarga Ibrahim As sebagaimana dikisahkan dalam QS.As-Shaaffaat:102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab; Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ibrah yang dapat diambil dalam kisah tersebut adalah adanya komunikasi yang timbal balik antara orang tua-anak, Ibrahim mengutarakan dengan bahasa dialog yaitu meminta pendapat pada Ismail bukan menetapkan keputusan, adanya keyakinan kuat atas kekuasaan Allah, adanya sikap tunduk/patuh atas perintah Allah, dan adanya sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah; sehingga perintah yang berat dan tidak logis tersebut dapat terlaksana dengan kehendak Allah yang menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.
5. Sabar dan Syukur
Allah SWT mengingatkan kita dalam Alqur’an surat At Taghabun ayat 14: ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Peringatan Allah tersebut nyata dalam kehidupan rumah tangga dimana sikap dan tindak tanduk suami/istri dan anak-anak kadangkala menunjukkan sikap seperti seorang musuh, misalnya dalam bentuk menghalangi-halangi langkah dakwah walaupun tidak secara langsung, tuntutan uang belanja yang nilainya di luar kemampuan, menuntut perhatian dan waktu yang lebih, prasangka buruk terhadap suami/isteri, tidak merasa puas dengan pelayanan/nafkah yang diberikan isteri/suami, anak-anak yang aktif dan senang membuat keributan, permintaan anak yang berlebihan, pendidikan dan pergaulan anak, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati, bukan tidak mungkin akan membawa pada jurang kehancuran rumah tangga.
Dengan kesadaran awal bahwa isteri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya kita berbekal diri dengan kesabaran. Merupakan bagian dari kesabaran adalah keridhaan kita menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang diluar kesang-gupannya. Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah dia yang harus kita terima secara utuh, begitupun penerimaan kita kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Ibaratnya kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asasi) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan bijak berikut:“Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”. Mereka yang lulus dari Fakultas Kesabaran akan meraih banyak keberkahan.
Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Rasulullah mensinyalir bahwa banyak di antara penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan mereka tidak bersyukur kepada suaminya. Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan; begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan.
Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah, sebagaimana firmannya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim:7).
Mensyukuri kehadiran keturunan sebagai karunia Allah, harus diwujudkan dalam bentuk mendidik mereka dengan pendidikan Rabbani sehingga menjadi keturunan yang menyejukkan hati. Keturunan yang mampu mengemban misi risalah dien ini untuk masa mendatang, maka jangan pernah bosan untuk selalu memanjatkan do’a:
Ya Rabb kami karuniakanlah kami isteri dan keturunan yang sedap dipandang mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertaqwa. Ya Rabb kami karuniakanlah kami anak-anak yang sholeh. Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang baik. Ya Rabb kami karuniakanlah kami dari sisi Engkau keturunan yang Engkau Ridha-i. Ya Rabb kami jadikanlah kami dan keturunan kami orang yang mendirikan shalat.
Do’a diatas adalah ungkapan harapan para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat (muwashshofat) ketuturunan (dzurriyaat) yang diinginkan, sebagaimana diabadikan Allah dalam Alqur’an (QS. Al-Furqon:74; QS. Ash-Shaafaat:100 ; QS.Al-Imran:38; QS. Maryam: 5-6; dan QS. Ibrahim:40). Pada intinya keturun-an yang diharapkan adalah keturunan yang sedap dipandang mata (Qurrota a’yun), yaitu keturunan yang memiliki sifat penciptaan jasad yang sempurna (thoyyiba), ruhaniyah yang baik (sholih), diridhai Allah karena misi risalah dien yang diperjuangkannya (wali radhi), dan senantiasa dekat dan bersama Allah (muqiimash-sholat). Demikianlah hendaknya harapan kita terhadap anak, agar mereka memiliki muwashofaat tersebut, disamping upaya (ikhtiar) kita memilihkan guru/sekolah yang baik, lingkungan yang sehat, makanan yang halal dan baik (thoyyib), fasilitas yang memadai, keteladanan dalam keseharian, dsb; hendaknya kita selalu memanjatkan do’a tersebut.
6. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)
Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi) Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan kejiwaan (maknawiyah) anak-anak dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal di rumah. Ungkapan yang menyatakan “Baiti Jannati” (Rumahku Syurgaku) bukan semata dapat diwujudkan dengan lengkapnya fasilitas dan luasnya rumah tinggal, akan tetapi lebih disebabkan oleh suasana interaktif antara suami-isteri dan orang tua-anak yang penuh santun dan bijaksana, sehingga tercipta kondisi yang penuh keakraban, kedamain, dan cinta kasih.
Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab syetan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billah), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah ma’af, karena Allah menyukai orang yang suka mema’afkan. Ingatlah, bila karena sesuatu hal kita telanjur marah kepada anak/isteri/suami, segeralah minta ma’af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah bisa hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi.
7. Kuatnya hubungan dengan Allah (Quwwatu shilah billah)
Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Ar-Ra’du:28. “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”. Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati/ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta’alluq billah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah saw sendiri selalu memanjatkan do’a agar mendapatkan keteguhan hati: “Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika” (wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu). Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), sehingga ia merasakan kebersamaan Allah dalam segala aktifitasnya (ma’iyatullah) dan selalu merasa diawasi Allah dalam segenap tindakannya (muraqobatullah). Perasaan tersebut harus dilatih dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga, melalui pembiasaan keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap dan dimutaba’ah bersama, seperti : tilawah, shalat tahajjud, shaum, infaq, do’a, ma’tsurat, dll. Pembiasaan dalam aktifitas tersebut dapat menjadi sarana menjalin keakraban dan persaudaraan (ukhuwah) seluruh anggota keluarga, dan yang penting dapat menjadi sarana mencapai taqwa dimana Allah swt menjamin orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaaq: 2-3. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-nya jalan keluar (solusi) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan) nya.”
Wujud indahnya keberkahan keluarga
Keberkahan dari Allah akan muncul dalam bentuk kebahagiaan hidup berumah tangga, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan di dunia, boleh jadi tidak selalu identik dengan kehidupan yang mewah dengan rumah dan perabotan yang serba lux. Hati yang selalu tenang (muthma’innah), fikiran dan perasaan yang selalu nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan materi/kemewahan.
Kebahagiaan hati akan semakin lengkap jika memang bisa kita sempurnakan dengan 4 (empat) hal seperti dinyatakan oleh Rasulullah, yaitu : (1) Isteri yang sholihah, (2) Rumah yang luas, (3) Kendaraan yang nyaman, dan (4) Tetangga yang baik.
Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas rumah yang luas dan kendaraan yang nyaman tanpa harus memiliki, misalnya di saat-saat rihlah, safar, silaturahmi, atau menempati rumah dan kendaraan dinas. Paling tidak keterbatasan ekonomi yang ada tidak sampai mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, karena pemilik hakiki adalah Allah swt yang telah menyediakan syurga dengan segala kenikmatan yang tak terbatas bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan menjadikan segala apa yang ada di dunia ini sebagai cobaan. Kebahagiaan yang lebih penting adalah kebahagiaan hidup di akhirat, dalam wujud dijauhkannya kita dari api neraka dan dimasukkannya kita dalam syurga. Itulah hakikat sukses hidup di dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Imran : 185
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Selanjutnya alangkah indahnya ketika Allah kemudian memanggil dan memerintahkan kita bersama-sama isteri/suami dan anak-anak untuk masuk kedalam syurga; sebagaimana dikhabarkan Allah dengan firman-Nya:
“Masuklah kamu ke dalam syurga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS, Az-Zukhruf:70)
“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan (pertemukan) anak cucu mereka dengan mereka (di syurga), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thuur:21).
...hidup mulia atau mati syahid... ya Allah, berilah kami cintaMu agar dapat mencintaimu jadikan cintaku padaMu melebihi cintaku pada diriku sendiri, keluarga, harta dan pekerjaanku.........
Rabu, 18 Februari 2009
Rabu, 24 Desember 2008
20 Cara Menguatkan Iman Anda
20 Cara Menguatkan Iman Anda
- “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.
4.Mengikutilahhalaqahdzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)
14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.
17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)
Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”
Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.
- “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.
4.Mengikutilahhalaqahdzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)
14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.
17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)
Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”
Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.
Selasa, 09 Desember 2008
nasehat pernikahan
NASEHAT PERNIKAHAN
Bismillahirrahmanirrahimi
Assalamu’alaikum wrwb.
Alhamdulillahirrabbil alamin, wabihi nastainuhu ala umuriddunya waddin wa sholatu washalamu ala anbiyai wal mursalin wa ala alihi waashohbihi aj’main.
Allahumma sholli ala Muhammadinil fatihi lima uhlik wal khotimi lima saba’ wanasiril haqi bil haqi ala shirotolmustaqim wa ala alihi wa ashbihi aj’main, amma ba’du
Pernikahan adalah suatu amalan sunah yang disyariatkan oleh Al Qur’an dan As Sunah Rasulullah SAW, dengan kokoh, sejalan dengan watak seksual dan sesuai dengan saluran yang halal dan bersih untuk memperoleh keturunan yang dapat memelihara kehormatan diri, kegembiraan hati dan ketenangan batin.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ;
Wamin ayaatihi ankhalaqum min anfusikum ajwajaa litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddata wa rahmah, innafi dzalika laayaati liqaumi yatafakkarun
artinya :” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Rasulullah SAW bersabda :” Nikah itu sunahku, barangsiapa tidak mengikuti sunahKu berarti dia bukan dari golonganKu”
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk menciptakan ketentraman, saling cinta dan kasih sayang. Ketiganya merupakan tiang kokoh penyangga bangunan keluarga dan rumah tangga. Bila salah satunya tidak ada, goyahlah sendi kekuatan bangunan rumah tangga tersebut.
Pertama : “Litaskunu ilaiha” yaitu sakinah, ketenangan dan ketentraman. Saling cinta, dan kasih sayang, supaya suami tenang dan tentram, kewajiban istri berusaha menenangkan dan menentramkan suami.
Kedua : “mawaddah” atau saling mencintai. Cintanya bersifat subyektif hanya untuk kepentingan berdua yaitu antara suami dan istri saling mencurahkan rasa cintanya.
Ketiga :” rahmah” yaitu kasih sayang yang bersifat obyektif yakni kasih sayang untuk kepentingan orang yang dikasih sayangi. Kasih sayang inilah yang harus menjadi landasan bagi cinta. Cinta makin lama makin berkurang, sedangkan kasih sayang makin lama makin kuat dan mantap.
Ketiga bangunan kehidupan itulah yang menjadi tujuan pernikahan dalam Islam.
Rosulullah bersabda : “sesungguhnya seluruh dunia kesenangan dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita/ istri yang solehah (HR Muslim).
Wahai putriku, ketahuilah istri yang baik itu,…..adalah :
• Selalu tampil dengan dandanan rapih dan indah dihadapan suami, selalu bersih, baik badan, pakaian, rumah, maupun lingkungan. istri yang tidak mengindahkan kebersihan menjauhkan suami dan mendorongnya kepelukan wanita lain yang bersih.
• Putriku, taat dan patuhlah kepada suamimu tetapi bukan dalam berma’siat kepada Allah SWT., Peliharalah anak-anakmu kelak dan tidak diasuh oleh pelayan atau tangan orang lain didiklah anak-anakmu dengan keimanan dan akhlak yang baik.
• Selalulah kamu rela dan puas dengan pemberian suamimu baik sedikit maupun banyak dan janganlah menuntut suami dengan hal-hal yang diluar kemampuannya.
• Uruslah rumah tanggamu dengan baik dan membelanjakan uang pada tempat yang benar, sasaran yang baik, dan hal-hal yang diperlukan saja.
• Peliharalah pakaianmu, perabot, dan alat rumah tangga agar lebih awet. Hal yang demikian lebih meringankan beban suami dan meningkatkan simpati serta menimbulkan penghargaan dari suami terhadap diri sang istri.
• Berakhlak baik dalam sikap, tindakan, dan tutur katamu. Selalu tersenyum dalam menyambut suami dengan ucapan yang menyenangkan dan melegakan hati. Penuh cinta dan kasih sayang.
• Bergaulah dengan keluarga suami dengan baik, terutama ibu mertuamu. hormatilah, sayangilah, dan bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap mereka. Tidak memonopoli suami dan menempatkan suami dalam keadaan sulit, yaitu memilih ibu atau istri. Suami yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbakti kepada orang tua pasti akan memilih ibunya.
• Hormati cita rasa suami. Menyertai suami dalam hati nurani dan tenggang rasa. Berhati-hati dalam melontarkan ucapan jangan sampai menyinggung dan melukai perasaan suami. Memberi kesan atau isyarat cinta kasih dan rasa bangga, demi memperkokoh kelestarian ikatan pernikahanmu.
• Pandai pandailah kamu bersyukur terhadap kebaikan suami. Hal ini dapat menimbulkan cinta suami dan mendorongnya berbuat lebih banyak kebaikan,
• Selalu menjaga kelemah lembutan dan kehalusan yang merupakan ciri kewanitaan dan kecantikan jiwa . Kecantikan wajah dan keindahan tubuh akan berakhir, tetapi kecantikan jiwa akan tetap lestari.
• Senantiasa memelihara keimanan dan amalan ibadahmu.
Dan kepada putraku,ketahuilah Suami yang baik itu,…….adalah :
• Memiliki kelebihan dalam soal kebenaran dan kejujuran sejak akan meminang. Berterus terang dalam menerangkan umur dan lainnya.
• Senang bersendau gurau, ramah tamah terhadap istri, memberi istri hak untuk hiburan, kesenangan yang wajar. Pergi bersama untuk hadir resepsi, ziarah dll
• Tidak terlalu cemburu, sabar, tidak banyak mengoreksi dan mencari-cari kesalahan istri, jujur , terbuka, tidak suka menggunakan ancaman cerai dan selalu bertanggungjawab.
• Dengan istri selalu berbicara dengan sopan, lembut dan beradap
• Memberi nafkah yang halal kepada keluarga dengan keseimbangan, tidak boros dan tidak kikir. Tidak membeli barang yang tidak diperlukan
• Selalu tampil indah dan berdandan baik, apa yang terlihat oleh istri dari suami ialah yang baik dan harum.
• Menyimpan rahasia keluarga dan rahasia rumah tangga yang dapat menjadi buah bibir dan bahan cerita dalam masyarakat.
• Memelihara penampilan yang berwibawa, penuh cinta, menyayangi, menghormati, menghargai dan memuliakan keluarga istri.
• Memelihara keimanan dan amalan ibadah diri dan seluruh keluarga
Yaa ayyuhalladzina amanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quduhaannasu wal khijaarah
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; (QS.At Tahrim ayat 6).
wa’mur ahlaka bish shalati wash thabir ‘alaihaa
artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha ayat 132)
Pesanku kepada anak-anakku.........
Wahai putriku,…. Kamu akan berpisah dengan lingkunganmu tempat kamu dilahirkan dan akan meninggalkan sarang tempat kamu dibesarkan untuk berpindah ke rumah yang tidak pernah kamu ketahui ruang serta isinya dan kepada kawan pendamping yang belum kamu kenal.
Dengan kekuasaannya terhadap dirimu, dia menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah abdinya supaya dia menjadi abdimu……..
Wahai anak-anakku………
• Bergaulah kamu berdua dengan asas kerelaan, bermusyawarahlah dengan kepatuhan dan saling mentaati yang baik
• Peliharalah apa apa yang ada dalam jangkauan mata dan hidung. Janganlah dia melihat sesuatu yang buruk dari kamu dan hendaknya dia mencium dari kamu keharuman. Hiasi celak matamu yang indah dan basulah tubuhmu dengan air yang cukup mengharumkan bila tidak ada wewangian.
• Jagalah waktu-waktu makan ketenangan tidurnya, sebab perihnya lapar dapat mengobarkan amarah dan kurangnya tidur akan mebangkitkan kejelekan.
• Peliharalah rumah, harta benda, diri kehormatan, dan anak-anaknya.sesungguhnya menjaga harta benda merupakan suatu penghargaan yang baik, sedangkan menjaga anak-anak dan kehormatanya adalah perbuatan yang mulia.
• Janganlah sekali-kali membocorkan rahasia dan menentang perintah suami. Bila kamu membocorkan rahasianya, kamu tidak akan aman dari tindakan balasan; dan bila kamu menentang, akan menyebabkan tertanamnya dendam dalam dadanya.
• Jauhilah kegembiraan dikala dia sedang dirudung kesedihan atau kesusahan dan jangan bersikap murung pada saat dia gembira. Sebab, yang pertama termasuk kekurangan, sedangkan yang kedua merupakan pengeruh suasana.
• Muliakan suamimu agar dia memiliakan kamu dan banyak-banyaklah bersikap setuju kepadanya agar dia lebih lama menjadi pendampingmu.
Wahai anak anakku……..
Pesanku padamu, sebagai suami istri haruslah bisa bertenggang rasa dan apabila perlu bergantilah mengalah demi kebaikan bersama, selalu berterus terang, tiada dinding rahasia yang memisahkan kedua hati, percaya mempercayai yang didasari oleh ikatan kesetiaan yang jujur.
Allah menghiasi hidup ini dengan suka dan duka, sebagaimana Allah telah menciptakan hidup ini dengan siang dan malam, sebagai istri yang baik engkau harus sanggup mendampingi suamimu dalam suka dan duka.
Anakku, dengan cintamu yang murni dikuatkan dengan sikap sebagaimana diajarkan dalam Islam, sungguh kesukaran apapun yang engkau hadapi di dalam hidup ini, insyaAllah akan dapat engkau atasi dengan petunjuk Allah SWT. Kebahagiaan sebesar apapun yang dilimpahkan Allah kepadamu, engkaupun tidak akan lupa kepadaNya.
Sebagaimana selama ini engkau telah menjadi orang yang baik bagi saudara-saudaramu dan kakak yang baik bagi adik adikmu, maka jadilah engkau istri yang baik bagi suamimu, menantu yang baik bagi ibu, bapak mertuamu dan iparmu juga baik bagi saudara saudara suamimu.
Anakku, bangunlah sebuah rumah tangga yang berlandaskan iman dan taqwa, dirikanlah tiang tiangnya berupa sholat wajib dan sholat sunatmu, dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu, zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
Dan semoga Allah SWT akan memasang atapnya agar teduh berupa Rahmat dan RidhoNya, semoga kelak rumah tanggamu akan dihangatkan oleh kehadiran dan celoteh anak anakmu yang sholeh dan sholehah, sehingga engkau berdua dapat bernaung dengan tentram dan damai, bukan saja di dunia ini tetapi juga di akhirat nanti, amien
Anakku, Islam mengajarkan agar di samping membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, engkaupun harus bisa bergaul dan menyambung tali silaturrahim yang luwes dengan lingkungan hidupmu. Engkau harus baik dengan tetangga, akrab dengan teman dan sahabat serta kasih mengasihi dengan saudara dan handai taulan.
Hormat dan sayangilah kepada kedua orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Insya Allah anakku dengan sikapmu yang baik dan penuh dengan kasih sayang, terutama kepada ibumu sekali lagi ibumu, ibumu dan kemudian bapakmu, maka Rahmat dan Berkah Allah akan tercurah pada rumah tanggamu, amien ya Rabbal alamin.
Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahimi disertai dengan do’a restu bapak ibumu dan semua keluargamu, maka berlayarlah anakku mengarungi samudera kehidupanmu yang baru dengan niat yang lurus, hati yang mantap serta iman yang teguh, tetap tegak bagaikan batu karang yang tangguh melawan badai dan ombak yang datang menerjang, menggoyahkan segala kehidupanmu.
Namun apabila biduk rumah tanggamu terbentur karang karang tajam, bila impian yang indah di hadapan pada kenyataan yang pahit, bila bukit harapan diguncang gempa cobaan, Ibu dan Bapak ingin agar engkau kuat berpegang pada tali Allah SWT, maka whuduk, sholatlah, bersujud, mohon petunjuk dan perbanyak dzikir dengan menyebut “Asma Allah”. Maka akan sejuklah hatimu nak…, nyaman hati orang tua apabila engkau berdua tetap mampu tersenyum, walaupun langit kadang kelabu. Semoga tercapailah yang engkau berdua idamkan selama ini akan membawa kebahagiaanmu, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Amien
Demikianlah anakku sayang, pesan dan nasehat dari orang tuamu. Semoga dapat engkau jadikan pegangan dalam mengarungi lautan hidupmu selanjutnya.
Amien ya Rabbal alamin, wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.
Jakarta, …………….. 2008
Wassalam,
Shohibul Hajjat
Bismillahirrahmanirrahimi
Assalamu’alaikum wrwb.
Alhamdulillahirrabbil alamin, wabihi nastainuhu ala umuriddunya waddin wa sholatu washalamu ala anbiyai wal mursalin wa ala alihi waashohbihi aj’main.
Allahumma sholli ala Muhammadinil fatihi lima uhlik wal khotimi lima saba’ wanasiril haqi bil haqi ala shirotolmustaqim wa ala alihi wa ashbihi aj’main, amma ba’du
Pernikahan adalah suatu amalan sunah yang disyariatkan oleh Al Qur’an dan As Sunah Rasulullah SAW, dengan kokoh, sejalan dengan watak seksual dan sesuai dengan saluran yang halal dan bersih untuk memperoleh keturunan yang dapat memelihara kehormatan diri, kegembiraan hati dan ketenangan batin.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ;
Wamin ayaatihi ankhalaqum min anfusikum ajwajaa litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddata wa rahmah, innafi dzalika laayaati liqaumi yatafakkarun
artinya :” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Rasulullah SAW bersabda :” Nikah itu sunahku, barangsiapa tidak mengikuti sunahKu berarti dia bukan dari golonganKu”
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk menciptakan ketentraman, saling cinta dan kasih sayang. Ketiganya merupakan tiang kokoh penyangga bangunan keluarga dan rumah tangga. Bila salah satunya tidak ada, goyahlah sendi kekuatan bangunan rumah tangga tersebut.
Pertama : “Litaskunu ilaiha” yaitu sakinah, ketenangan dan ketentraman. Saling cinta, dan kasih sayang, supaya suami tenang dan tentram, kewajiban istri berusaha menenangkan dan menentramkan suami.
Kedua : “mawaddah” atau saling mencintai. Cintanya bersifat subyektif hanya untuk kepentingan berdua yaitu antara suami dan istri saling mencurahkan rasa cintanya.
Ketiga :” rahmah” yaitu kasih sayang yang bersifat obyektif yakni kasih sayang untuk kepentingan orang yang dikasih sayangi. Kasih sayang inilah yang harus menjadi landasan bagi cinta. Cinta makin lama makin berkurang, sedangkan kasih sayang makin lama makin kuat dan mantap.
Ketiga bangunan kehidupan itulah yang menjadi tujuan pernikahan dalam Islam.
Rosulullah bersabda : “sesungguhnya seluruh dunia kesenangan dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita/ istri yang solehah (HR Muslim).
Wahai putriku, ketahuilah istri yang baik itu,…..adalah :
• Selalu tampil dengan dandanan rapih dan indah dihadapan suami, selalu bersih, baik badan, pakaian, rumah, maupun lingkungan. istri yang tidak mengindahkan kebersihan menjauhkan suami dan mendorongnya kepelukan wanita lain yang bersih.
• Putriku, taat dan patuhlah kepada suamimu tetapi bukan dalam berma’siat kepada Allah SWT., Peliharalah anak-anakmu kelak dan tidak diasuh oleh pelayan atau tangan orang lain didiklah anak-anakmu dengan keimanan dan akhlak yang baik.
• Selalulah kamu rela dan puas dengan pemberian suamimu baik sedikit maupun banyak dan janganlah menuntut suami dengan hal-hal yang diluar kemampuannya.
• Uruslah rumah tanggamu dengan baik dan membelanjakan uang pada tempat yang benar, sasaran yang baik, dan hal-hal yang diperlukan saja.
• Peliharalah pakaianmu, perabot, dan alat rumah tangga agar lebih awet. Hal yang demikian lebih meringankan beban suami dan meningkatkan simpati serta menimbulkan penghargaan dari suami terhadap diri sang istri.
• Berakhlak baik dalam sikap, tindakan, dan tutur katamu. Selalu tersenyum dalam menyambut suami dengan ucapan yang menyenangkan dan melegakan hati. Penuh cinta dan kasih sayang.
• Bergaulah dengan keluarga suami dengan baik, terutama ibu mertuamu. hormatilah, sayangilah, dan bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap mereka. Tidak memonopoli suami dan menempatkan suami dalam keadaan sulit, yaitu memilih ibu atau istri. Suami yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbakti kepada orang tua pasti akan memilih ibunya.
• Hormati cita rasa suami. Menyertai suami dalam hati nurani dan tenggang rasa. Berhati-hati dalam melontarkan ucapan jangan sampai menyinggung dan melukai perasaan suami. Memberi kesan atau isyarat cinta kasih dan rasa bangga, demi memperkokoh kelestarian ikatan pernikahanmu.
• Pandai pandailah kamu bersyukur terhadap kebaikan suami. Hal ini dapat menimbulkan cinta suami dan mendorongnya berbuat lebih banyak kebaikan,
• Selalu menjaga kelemah lembutan dan kehalusan yang merupakan ciri kewanitaan dan kecantikan jiwa . Kecantikan wajah dan keindahan tubuh akan berakhir, tetapi kecantikan jiwa akan tetap lestari.
• Senantiasa memelihara keimanan dan amalan ibadahmu.
Dan kepada putraku,ketahuilah Suami yang baik itu,…….adalah :
• Memiliki kelebihan dalam soal kebenaran dan kejujuran sejak akan meminang. Berterus terang dalam menerangkan umur dan lainnya.
• Senang bersendau gurau, ramah tamah terhadap istri, memberi istri hak untuk hiburan, kesenangan yang wajar. Pergi bersama untuk hadir resepsi, ziarah dll
• Tidak terlalu cemburu, sabar, tidak banyak mengoreksi dan mencari-cari kesalahan istri, jujur , terbuka, tidak suka menggunakan ancaman cerai dan selalu bertanggungjawab.
• Dengan istri selalu berbicara dengan sopan, lembut dan beradap
• Memberi nafkah yang halal kepada keluarga dengan keseimbangan, tidak boros dan tidak kikir. Tidak membeli barang yang tidak diperlukan
• Selalu tampil indah dan berdandan baik, apa yang terlihat oleh istri dari suami ialah yang baik dan harum.
• Menyimpan rahasia keluarga dan rahasia rumah tangga yang dapat menjadi buah bibir dan bahan cerita dalam masyarakat.
• Memelihara penampilan yang berwibawa, penuh cinta, menyayangi, menghormati, menghargai dan memuliakan keluarga istri.
• Memelihara keimanan dan amalan ibadah diri dan seluruh keluarga
Yaa ayyuhalladzina amanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quduhaannasu wal khijaarah
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; (QS.At Tahrim ayat 6).
wa’mur ahlaka bish shalati wash thabir ‘alaihaa
artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha ayat 132)
Pesanku kepada anak-anakku.........
Wahai putriku,…. Kamu akan berpisah dengan lingkunganmu tempat kamu dilahirkan dan akan meninggalkan sarang tempat kamu dibesarkan untuk berpindah ke rumah yang tidak pernah kamu ketahui ruang serta isinya dan kepada kawan pendamping yang belum kamu kenal.
Dengan kekuasaannya terhadap dirimu, dia menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah abdinya supaya dia menjadi abdimu……..
Wahai anak-anakku………
• Bergaulah kamu berdua dengan asas kerelaan, bermusyawarahlah dengan kepatuhan dan saling mentaati yang baik
• Peliharalah apa apa yang ada dalam jangkauan mata dan hidung. Janganlah dia melihat sesuatu yang buruk dari kamu dan hendaknya dia mencium dari kamu keharuman. Hiasi celak matamu yang indah dan basulah tubuhmu dengan air yang cukup mengharumkan bila tidak ada wewangian.
• Jagalah waktu-waktu makan ketenangan tidurnya, sebab perihnya lapar dapat mengobarkan amarah dan kurangnya tidur akan mebangkitkan kejelekan.
• Peliharalah rumah, harta benda, diri kehormatan, dan anak-anaknya.sesungguhnya menjaga harta benda merupakan suatu penghargaan yang baik, sedangkan menjaga anak-anak dan kehormatanya adalah perbuatan yang mulia.
• Janganlah sekali-kali membocorkan rahasia dan menentang perintah suami. Bila kamu membocorkan rahasianya, kamu tidak akan aman dari tindakan balasan; dan bila kamu menentang, akan menyebabkan tertanamnya dendam dalam dadanya.
• Jauhilah kegembiraan dikala dia sedang dirudung kesedihan atau kesusahan dan jangan bersikap murung pada saat dia gembira. Sebab, yang pertama termasuk kekurangan, sedangkan yang kedua merupakan pengeruh suasana.
• Muliakan suamimu agar dia memiliakan kamu dan banyak-banyaklah bersikap setuju kepadanya agar dia lebih lama menjadi pendampingmu.
Wahai anak anakku……..
Pesanku padamu, sebagai suami istri haruslah bisa bertenggang rasa dan apabila perlu bergantilah mengalah demi kebaikan bersama, selalu berterus terang, tiada dinding rahasia yang memisahkan kedua hati, percaya mempercayai yang didasari oleh ikatan kesetiaan yang jujur.
Allah menghiasi hidup ini dengan suka dan duka, sebagaimana Allah telah menciptakan hidup ini dengan siang dan malam, sebagai istri yang baik engkau harus sanggup mendampingi suamimu dalam suka dan duka.
Anakku, dengan cintamu yang murni dikuatkan dengan sikap sebagaimana diajarkan dalam Islam, sungguh kesukaran apapun yang engkau hadapi di dalam hidup ini, insyaAllah akan dapat engkau atasi dengan petunjuk Allah SWT. Kebahagiaan sebesar apapun yang dilimpahkan Allah kepadamu, engkaupun tidak akan lupa kepadaNya.
Sebagaimana selama ini engkau telah menjadi orang yang baik bagi saudara-saudaramu dan kakak yang baik bagi adik adikmu, maka jadilah engkau istri yang baik bagi suamimu, menantu yang baik bagi ibu, bapak mertuamu dan iparmu juga baik bagi saudara saudara suamimu.
Anakku, bangunlah sebuah rumah tangga yang berlandaskan iman dan taqwa, dirikanlah tiang tiangnya berupa sholat wajib dan sholat sunatmu, dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu, zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
Dan semoga Allah SWT akan memasang atapnya agar teduh berupa Rahmat dan RidhoNya, semoga kelak rumah tanggamu akan dihangatkan oleh kehadiran dan celoteh anak anakmu yang sholeh dan sholehah, sehingga engkau berdua dapat bernaung dengan tentram dan damai, bukan saja di dunia ini tetapi juga di akhirat nanti, amien
Anakku, Islam mengajarkan agar di samping membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, engkaupun harus bisa bergaul dan menyambung tali silaturrahim yang luwes dengan lingkungan hidupmu. Engkau harus baik dengan tetangga, akrab dengan teman dan sahabat serta kasih mengasihi dengan saudara dan handai taulan.
Hormat dan sayangilah kepada kedua orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Insya Allah anakku dengan sikapmu yang baik dan penuh dengan kasih sayang, terutama kepada ibumu sekali lagi ibumu, ibumu dan kemudian bapakmu, maka Rahmat dan Berkah Allah akan tercurah pada rumah tanggamu, amien ya Rabbal alamin.
Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahimi disertai dengan do’a restu bapak ibumu dan semua keluargamu, maka berlayarlah anakku mengarungi samudera kehidupanmu yang baru dengan niat yang lurus, hati yang mantap serta iman yang teguh, tetap tegak bagaikan batu karang yang tangguh melawan badai dan ombak yang datang menerjang, menggoyahkan segala kehidupanmu.
Namun apabila biduk rumah tanggamu terbentur karang karang tajam, bila impian yang indah di hadapan pada kenyataan yang pahit, bila bukit harapan diguncang gempa cobaan, Ibu dan Bapak ingin agar engkau kuat berpegang pada tali Allah SWT, maka whuduk, sholatlah, bersujud, mohon petunjuk dan perbanyak dzikir dengan menyebut “Asma Allah”. Maka akan sejuklah hatimu nak…, nyaman hati orang tua apabila engkau berdua tetap mampu tersenyum, walaupun langit kadang kelabu. Semoga tercapailah yang engkau berdua idamkan selama ini akan membawa kebahagiaanmu, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Amien
Demikianlah anakku sayang, pesan dan nasehat dari orang tuamu. Semoga dapat engkau jadikan pegangan dalam mengarungi lautan hidupmu selanjutnya.
Amien ya Rabbal alamin, wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.
Jakarta, …………….. 2008
Wassalam,
Shohibul Hajjat
Selasa, 07 Oktober 2008
Minggu, 14 September 2008
TIPOLOGI MANUSIA MENGHADAPI RAMADHAN
Ramadhan seri 2
Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin dalam
beberapa kategori dan model, yaitu:
Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar
akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di
bulan itu.
Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan
suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka
tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena
mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.
Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan tiba-tiba saja
muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan melihat
fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu,
apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada.
Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang
penulis tangkap dari gejala sosial yang ada.
Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai
yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini
hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi
perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.
Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka
persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka
menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan
itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik
dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan
dilalui dengan baik.
Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukanya.
Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin
bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini
betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.
Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya.
Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan
hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini. Penulis kira,
golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini.
Mereka adalah para pemburu takwa.
Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut
kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang
meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini.
Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan
spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak
ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin,
walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan.
Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.
Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak
jumlahnya.. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat
ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka,
bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak
mendapatkannya.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan
Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat
mereka menangguk keuntungan besar. Siapa mereka? Mereka adalah
sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.
Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan
dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam
benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop dalam sekali
tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang
dianggap mendatangkan uang.
Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan
Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak
penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini.
Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan
ampunan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekening.
Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat
tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia
sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa bekakan, seakan
Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.
Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara
dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang
sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat
melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran,
namun dia sendiri untuk menyentuh, ya untuk menyentuh saja, demikian
enggan.
Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan
selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa
seorang qari’-qariah, bisa seorang dai kondang, bisa seorang presenter,
bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola
transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama
pada saat Ramadhan datang menjelang.
Saya yakin, kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan
kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi
sebaik-baiknya.. Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan
spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang
tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!
Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan
kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap sebagai kelompok yang
sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui
dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena
akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan
dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus
malu jika kepergok sedang makan-makan.
Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda
hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan
telah menyumbat rizkinya.
Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola
night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan.
Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya
menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah
para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup
menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja
pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan
bulan penyucian diri dan jiwa.
Saya tidak berani berkomentar sosok macam apakah mereka. Yang jelas,
mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha
Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini.
Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah kelompok
pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan
“keberaniannya”, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk
yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.
Kita berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang
semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk
nilai-nilai dan semangat pula memaknainya.
Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin dalam
beberapa kategori dan model, yaitu:
Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar
akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di
bulan itu.
Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan
suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka
tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena
mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.
Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan tiba-tiba saja
muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan melihat
fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu,
apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada.
Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang
penulis tangkap dari gejala sosial yang ada.
Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai
yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini
hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi
perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.
Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka
persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka
menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan
itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik
dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan
dilalui dengan baik.
Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukanya.
Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin
bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini
betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.
Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya.
Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan
hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini. Penulis kira,
golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini.
Mereka adalah para pemburu takwa.
Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut
kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang
meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini.
Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan
spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak
ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin,
walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan.
Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.
Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak
jumlahnya.. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat
ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka,
bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak
mendapatkannya.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan
Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat
mereka menangguk keuntungan besar. Siapa mereka? Mereka adalah
sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.
Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan
dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam
benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop dalam sekali
tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang
dianggap mendatangkan uang.
Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan
Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak
penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini.
Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan
ampunan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekening.
Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat
tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia
sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa bekakan, seakan
Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.
Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara
dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang
sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat
melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran,
namun dia sendiri untuk menyentuh, ya untuk menyentuh saja, demikian
enggan.
Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan
selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa
seorang qari’-qariah, bisa seorang dai kondang, bisa seorang presenter,
bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola
transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama
pada saat Ramadhan datang menjelang.
Saya yakin, kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan
kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi
sebaik-baiknya.. Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan
spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang
tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!
Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan
kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap sebagai kelompok yang
sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui
dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena
akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan
dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus
malu jika kepergok sedang makan-makan.
Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda
hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan
telah menyumbat rizkinya.
Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola
night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan.
Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya
menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah
para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup
menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja
pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan
bulan penyucian diri dan jiwa.
Saya tidak berani berkomentar sosok macam apakah mereka. Yang jelas,
mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha
Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini.
Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah kelompok
pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan
“keberaniannya”, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk
yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.
Kita berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang
semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk
nilai-nilai dan semangat pula memaknainya.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)

