Rabu, 24 Desember 2008

20 Cara Menguatkan Iman Anda

20 Cara Menguatkan Iman Anda


- “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.
4.Mengikutilahhalaqahdzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”
Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)


14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.


17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)
Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”
Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.

Selasa, 09 Desember 2008

nasehat pernikahan

NASEHAT PERNIKAHAN

Bismillahirrahmanirrahimi
Assalamu’alaikum wrwb.
Alhamdulillahirrabbil alamin, wabihi nastainuhu ala umuriddunya waddin wa sholatu washalamu ala anbiyai wal mursalin wa ala alihi waashohbihi aj’main.
Allahumma sholli ala Muhammadinil fatihi lima uhlik wal khotimi lima saba’ wanasiril haqi bil haqi ala shirotolmustaqim wa ala alihi wa ashbihi aj’main, amma ba’du

Pernikahan adalah suatu amalan sunah yang disyariatkan oleh Al Qur’an dan As Sunah Rasulullah SAW, dengan kokoh, sejalan dengan watak seksual dan sesuai dengan saluran yang halal dan bersih untuk memperoleh keturunan yang dapat memelihara kehormatan diri, kegembiraan hati dan ketenangan batin.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ;

Wamin ayaatihi ankhalaqum min anfusikum ajwajaa litaskunuu ilaihaa waja’ala bainakum mawaddata wa rahmah, innafi dzalika laayaati liqaumi yatafakkarun
artinya :” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Rasulullah SAW bersabda :” Nikah itu sunahku, barangsiapa tidak mengikuti sunahKu berarti dia bukan dari golonganKu”
Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk menciptakan ketentraman, saling cinta dan kasih sayang. Ketiganya merupakan tiang kokoh penyangga bangunan keluarga dan rumah tangga. Bila salah satunya tidak ada, goyahlah sendi kekuatan bangunan rumah tangga tersebut.
Pertama : “Litaskunu ilaiha” yaitu sakinah, ketenangan dan ketentraman. Saling cinta, dan kasih sayang, supaya suami tenang dan tentram, kewajiban istri berusaha menenangkan dan menentramkan suami.
Kedua : “mawaddah” atau saling mencintai. Cintanya bersifat subyektif hanya untuk kepentingan berdua yaitu antara suami dan istri saling mencurahkan rasa cintanya.
Ketiga :” rahmah” yaitu kasih sayang yang bersifat obyektif yakni kasih sayang untuk kepentingan orang yang dikasih sayangi. Kasih sayang inilah yang harus menjadi landasan bagi cinta. Cinta makin lama makin berkurang, sedangkan kasih sayang makin lama makin kuat dan mantap.

Ketiga bangunan kehidupan itulah yang menjadi tujuan pernikahan dalam Islam.
Rosulullah bersabda : “sesungguhnya seluruh dunia kesenangan dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita/ istri yang solehah (HR Muslim).

Wahai putriku, ketahuilah istri yang baik itu,…..adalah :
• Selalu tampil dengan dandanan rapih dan indah dihadapan suami, selalu bersih, baik badan, pakaian, rumah, maupun lingkungan. istri yang tidak mengindahkan kebersihan menjauhkan suami dan mendorongnya kepelukan wanita lain yang bersih.
• Putriku, taat dan patuhlah kepada suamimu tetapi bukan dalam berma’siat kepada Allah SWT., Peliharalah anak-anakmu kelak dan tidak diasuh oleh pelayan atau tangan orang lain didiklah anak-anakmu dengan keimanan dan akhlak yang baik.
• Selalulah kamu rela dan puas dengan pemberian suamimu baik sedikit maupun banyak dan janganlah menuntut suami dengan hal-hal yang diluar kemampuannya.
• Uruslah rumah tanggamu dengan baik dan membelanjakan uang pada tempat yang benar, sasaran yang baik, dan hal-hal yang diperlukan saja.
• Peliharalah pakaianmu, perabot, dan alat rumah tangga agar lebih awet. Hal yang demikian lebih meringankan beban suami dan meningkatkan simpati serta menimbulkan penghargaan dari suami terhadap diri sang istri.
• Berakhlak baik dalam sikap, tindakan, dan tutur katamu. Selalu tersenyum dalam menyambut suami dengan ucapan yang menyenangkan dan melegakan hati. Penuh cinta dan kasih sayang.
• Bergaulah dengan keluarga suami dengan baik, terutama ibu mertuamu. hormatilah, sayangilah, dan bersikap lemah lembut dan mengalah terhadap mereka. Tidak memonopoli suami dan menempatkan suami dalam keadaan sulit, yaitu memilih ibu atau istri. Suami yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berbakti kepada orang tua pasti akan memilih ibunya.
• Hormati cita rasa suami. Menyertai suami dalam hati nurani dan tenggang rasa. Berhati-hati dalam melontarkan ucapan jangan sampai menyinggung dan melukai perasaan suami. Memberi kesan atau isyarat cinta kasih dan rasa bangga, demi memperkokoh kelestarian ikatan pernikahanmu.
• Pandai pandailah kamu bersyukur terhadap kebaikan suami. Hal ini dapat menimbulkan cinta suami dan mendorongnya berbuat lebih banyak kebaikan,
• Selalu menjaga kelemah lembutan dan kehalusan yang merupakan ciri kewanitaan dan kecantikan jiwa . Kecantikan wajah dan keindahan tubuh akan berakhir, tetapi kecantikan jiwa akan tetap lestari.
• Senantiasa memelihara keimanan dan amalan ibadahmu.


Dan kepada putraku,ketahuilah Suami yang baik itu,…….adalah :

• Memiliki kelebihan dalam soal kebenaran dan kejujuran sejak akan meminang. Berterus terang dalam menerangkan umur dan lainnya.
• Senang bersendau gurau, ramah tamah terhadap istri, memberi istri hak untuk hiburan, kesenangan yang wajar. Pergi bersama untuk hadir resepsi, ziarah dll
• Tidak terlalu cemburu, sabar, tidak banyak mengoreksi dan mencari-cari kesalahan istri, jujur , terbuka, tidak suka menggunakan ancaman cerai dan selalu bertanggungjawab.
• Dengan istri selalu berbicara dengan sopan, lembut dan beradap
• Memberi nafkah yang halal kepada keluarga dengan keseimbangan, tidak boros dan tidak kikir. Tidak membeli barang yang tidak diperlukan
• Selalu tampil indah dan berdandan baik, apa yang terlihat oleh istri dari suami ialah yang baik dan harum.
• Menyimpan rahasia keluarga dan rahasia rumah tangga yang dapat menjadi buah bibir dan bahan cerita dalam masyarakat.
• Memelihara penampilan yang berwibawa, penuh cinta, menyayangi, menghormati, menghargai dan memuliakan keluarga istri.
• Memelihara keimanan dan amalan ibadah diri dan seluruh keluarga

Yaa ayyuhalladzina amanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quduhaannasu wal khijaarah
artinya :” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; (QS.At Tahrim ayat 6).

wa’mur ahlaka bish shalati wash thabir ‘alaihaa
artinya :”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha ayat 132)
Pesanku kepada anak-anakku.........
Wahai putriku,…. Kamu akan berpisah dengan lingkunganmu tempat kamu dilahirkan dan akan meninggalkan sarang tempat kamu dibesarkan untuk berpindah ke rumah yang tidak pernah kamu ketahui ruang serta isinya dan kepada kawan pendamping yang belum kamu kenal.
Dengan kekuasaannya terhadap dirimu, dia menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah abdinya supaya dia menjadi abdimu……..

Wahai anak-anakku………
• Bergaulah kamu berdua dengan asas kerelaan, bermusyawarahlah dengan kepatuhan dan saling mentaati yang baik
• Peliharalah apa apa yang ada dalam jangkauan mata dan hidung. Janganlah dia melihat sesuatu yang buruk dari kamu dan hendaknya dia mencium dari kamu keharuman. Hiasi celak matamu yang indah dan basulah tubuhmu dengan air yang cukup mengharumkan bila tidak ada wewangian.
• Jagalah waktu-waktu makan ketenangan tidurnya, sebab perihnya lapar dapat mengobarkan amarah dan kurangnya tidur akan mebangkitkan kejelekan.
• Peliharalah rumah, harta benda, diri kehormatan, dan anak-anaknya.sesungguhnya menjaga harta benda merupakan suatu penghargaan yang baik, sedangkan menjaga anak-anak dan kehormatanya adalah perbuatan yang mulia.
• Janganlah sekali-kali membocorkan rahasia dan menentang perintah suami. Bila kamu membocorkan rahasianya, kamu tidak akan aman dari tindakan balasan; dan bila kamu menentang, akan menyebabkan tertanamnya dendam dalam dadanya.
• Jauhilah kegembiraan dikala dia sedang dirudung kesedihan atau kesusahan dan jangan bersikap murung pada saat dia gembira. Sebab, yang pertama termasuk kekurangan, sedangkan yang kedua merupakan pengeruh suasana.
• Muliakan suamimu agar dia memiliakan kamu dan banyak-banyaklah bersikap setuju kepadanya agar dia lebih lama menjadi pendampingmu.
Wahai anak anakku……..
Pesanku padamu, sebagai suami istri haruslah bisa bertenggang rasa dan apabila perlu bergantilah mengalah demi kebaikan bersama, selalu berterus terang, tiada dinding rahasia yang memisahkan kedua hati, percaya mempercayai yang didasari oleh ikatan kesetiaan yang jujur.
Allah menghiasi hidup ini dengan suka dan duka, sebagaimana Allah telah menciptakan hidup ini dengan siang dan malam, sebagai istri yang baik engkau harus sanggup mendampingi suamimu dalam suka dan duka.
Anakku, dengan cintamu yang murni dikuatkan dengan sikap sebagaimana diajarkan dalam Islam, sungguh kesukaran apapun yang engkau hadapi di dalam hidup ini, insyaAllah akan dapat engkau atasi dengan petunjuk Allah SWT. Kebahagiaan sebesar apapun yang dilimpahkan Allah kepadamu, engkaupun tidak akan lupa kepadaNya.
Sebagaimana selama ini engkau telah menjadi orang yang baik bagi saudara-saudaramu dan kakak yang baik bagi adik adikmu, maka jadilah engkau istri yang baik bagi suamimu, menantu yang baik bagi ibu, bapak mertuamu dan iparmu juga baik bagi saudara saudara suamimu.
Anakku, bangunlah sebuah rumah tangga yang berlandaskan iman dan taqwa, dirikanlah tiang tiangnya berupa sholat wajib dan sholat sunatmu, dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu, zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
Dan semoga Allah SWT akan memasang atapnya agar teduh berupa Rahmat dan RidhoNya, semoga kelak rumah tanggamu akan dihangatkan oleh kehadiran dan celoteh anak anakmu yang sholeh dan sholehah, sehingga engkau berdua dapat bernaung dengan tentram dan damai, bukan saja di dunia ini tetapi juga di akhirat nanti, amien
Anakku, Islam mengajarkan agar di samping membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, engkaupun harus bisa bergaul dan menyambung tali silaturrahim yang luwes dengan lingkungan hidupmu. Engkau harus baik dengan tetangga, akrab dengan teman dan sahabat serta kasih mengasihi dengan saudara dan handai taulan.
Hormat dan sayangilah kepada kedua orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Insya Allah anakku dengan sikapmu yang baik dan penuh dengan kasih sayang, terutama kepada ibumu sekali lagi ibumu, ibumu dan kemudian bapakmu, maka Rahmat dan Berkah Allah akan tercurah pada rumah tanggamu, amien ya Rabbal alamin.
Akhirnya, dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahimi disertai dengan do’a restu bapak ibumu dan semua keluargamu, maka berlayarlah anakku mengarungi samudera kehidupanmu yang baru dengan niat yang lurus, hati yang mantap serta iman yang teguh, tetap tegak bagaikan batu karang yang tangguh melawan badai dan ombak yang datang menerjang, menggoyahkan segala kehidupanmu.
Namun apabila biduk rumah tanggamu terbentur karang karang tajam, bila impian yang indah di hadapan pada kenyataan yang pahit, bila bukit harapan diguncang gempa cobaan, Ibu dan Bapak ingin agar engkau kuat berpegang pada tali Allah SWT, maka whuduk, sholatlah, bersujud, mohon petunjuk dan perbanyak dzikir dengan menyebut “Asma Allah”. Maka akan sejuklah hatimu nak…, nyaman hati orang tua apabila engkau berdua tetap mampu tersenyum, walaupun langit kadang kelabu. Semoga tercapailah yang engkau berdua idamkan selama ini akan membawa kebahagiaanmu, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Amien
Demikianlah anakku sayang, pesan dan nasehat dari orang tuamu. Semoga dapat engkau jadikan pegangan dalam mengarungi lautan hidupmu selanjutnya.
Amien ya Rabbal alamin, wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.

Jakarta, …………….. 2008

Wassalam,
Shohibul Hajjat